Rabu, 13 Februari 2008

Koki - Senin 18 Juni 2007

Obrolan Wimar, Sandi & Pesugihan (AS, Belanda, Jepang)

Sandi Surat Cinta
Yani Maria - Joglosemar

Hallo Zev dan kokiers yang budiman. Saat sedang bekerja, mengetikkan kode program/coding (saya seorang programmer), ingatan saya kembali ke masa di saat cinta monyet sedang bersemi :) Apa hubungannya ya script program dengan cinta monyet?

Dulu saat saya menjalin kisah asmara dengan cinta monyet saya saat SMP dan berlanjut sampai kelas 1 SMA, kami suka berkirim surat hampir setiap hari. Jaman dulu belum ada sms dikiriiiim.... sms diterimaaaa... belum ada email, belum ada messenger...

Kalau telpon-telponan takut dimarahin ortu kalau tagihan membengkak. Uang saku pun terbatas hanya untuk naik angkota dan jajan slondok (krupuk dari ketela) :D Jadi menggunakan media kertas dan pulpen inilah kami memadu kasih (haallaahhh...).

Kembali ke coding dan cinta monyet, persamaannya adalah melalui surat-surat tersebut, kami menorehkan kata-kata gombal kami yang dienkripsi dengan menggunakan kode-kode atau sandi rahasia. Kebetulan kami aktif sebagai anggota PRAMUKA di sekolah.

Persoalan sandi sudah jadi santapan kami sebagai seorang PRAMUKA. Surat-surat cinta kami kebanyakan dikirim melalui jasa perantara teman karena kami beda kelas. Kadang diselipkan di buku catatan yang pura-pura dipinjam. Tapi paling sering pakai acara titip menitip. Sepupuku tuh yang selalu jadi korban dititipin surat cinta hehehe (Hallo nal, clbk nih. cinta lama bersemi kembali) ^_^

Dengan pengkodean pernyataan cinta kami itu, otomatis orang yang dititipin surat tidak bisa membaca isinya. Melihatnya pun pusing karena hanya aku dan dia yang tahu isi di dalamnya. Sandi-sandi yang kami pakai beraneka ragam, supaya tidak bosan dan sekaligus mengasah keterampilan kami menciptakan sandi baru. Pramuka gitu looh... Beberapa yang masih saya ingat di antaranya:

A=X. Artinya huruf a adalah x. Jika kita membuat urutan abjad dari a b c d e... dst sampai z, maka rubah urutannya sehingga huruf a adalah x. Jadi nanti, huruf b adalah y, huruf c adalah z, huruf d adalah a, huruf e adalah b dan seterusnya. Jadi kalau kami mau nulis "i love you" jadinya "l oryh brx".

Sandi rumput. Ini sebenarnya adalah sandi morse yang dituliskan dengan simbol rumput (V terbalik). Sandi morse khan terdiri dari - dan . Dengan sandi rumput tanda - diganti dengan simbol ^ tinggi dan tanda . diganti dengan simbol ^ pendek.
Jadi isi surat kita ya kayak gambar rumput gitu. Padahal ada puisi cinta di dalamnya hahahaha.

Sandi baygon. Dengan sandi baygon ini kita menulis suratnya melingkar, seperti obat nyamuk bakar yang bentuknya melingkar-lingkar. Kata pertama dimulai dari titik paling tengah dan ditulis melingkar bisa searah atau berlawanan arah jarum jam. Untuk membacanya harus memutar-mutar kertasnya. Susah banget deh pokoknya.

Sandi +VA. Misalnya mau nulis "Aku kangen kamu" jadinya seperti ini "Avakuvu kavangeven kavamuvu". VA bisa diganti suka-suka kita. Bisa diganti RA sehingga tulisannya menjadi "Arakuru karangeren karamuru", dsb. dsb (lupa... ada puluhan sandi soalnya).

Kurang kerjaan banget ya??? Tapi itulah nilai seninya pacaran tempoe doeloe. Saya ingat sekali kalau menulis surat buat si doi bisa makan waktu lebih dari satu jam. Soalnya harus membuat kode, mikir dulu mau nulis apa buat dia, mengkodekan yang mau ditulis.

Begitu juga kalau membaca surat dari dia, harus mendekode surat dia. Penuh perjuangan lah. Tapi asyik sekali. Perasaan berdebar-debar dan penasaran saat menerima surat cinta selalu ada di setiap helai surat yang dia kirim. Dan yang pasti, surat itu bebas sensor.

Teman-teman yang dititipin surat atau kebetulan menemukan surat kami, malas mengartikan atau tidak mudheng isi suratnya apa. Jadi kami bebas dari olok-olok teman sekolah :)

Sayang, surat-surat cinta itu sudah aku bakar semua saat cinta monyet kami pupus di kelas 1 SMA karena adanya CIL (cewek idaman lain).

Sekarang pekerjaanku tidak jauh-jauh dari kode... coding maning coding maning... (coding lagi... coding lagi...).

PS: Salam buat Pradipta, cinta monyetku pas masih ingusan :)

Koki - Senin 17 Desember 2007

Bikhu, w00t, Bus & Tangan Usil (AS, Yunani, Thailand)

Justice, Where Are You?
Yani Maria - Salatiga

Monolog Butet Kertaradjasa dalam lakon Sarimin, yang ditampilkan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta pada bulan November yang lalu, berkisah tentang seorang tukang topeng monyet keliling yang menemukan sebuah KTP. Sarimin yang buta huruf tidak dapat membaca siapa pemilik KTP tersebut, karena dia berniat mengembalikan kepada si empunya. Dengan maksud baik tersebut, dia ke kantor polisi agar petugas dapat membantunya mengembalikan KTP tersebut ke pemiliknya. Sarimin menunggu begitu lama hingga bertahun-tahun untuk dapat dilayani karena petugas di kepolisian sangat sibuk dan mengacuhkannya.

Suatu saat seorang petugas akhirnya menanyakan keperluan Sarimin. Ketika Sarimin menyerahkan KTP yang ditemukannya itu, dia malah dituduh mencuri dan berniat untuk memeras si empunya KTP yang ternyata adalah seorang hakim agung. Selanjutnya Sarimin malah dikenakan dakwaan berlapis-lapis. Ketika Sarimin mengaku buta huruf, dia dikenakan dakwaan menghina pemerintah karena pemerintah sudah memproklamasikan bahwa masyarakat Indonesia sudah bebas huruf, kok masih ada warganya yang masih buta huruf???


Dakwaan selanjutnya adalah Sarimin dianggap telah menghina kepolisian karena dia mengaku telah menunggu bertahun-tahun agar dapat dilayani. Padahal kepolisian sebagai penegak hukum berperan sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat, mengabdi bagi kepentingan masyarakat. Tidak mungkin Sarimin tidak segera dilayani.


Singkat cerita, Sarimin malang ini dimasukkan ke penjara sambil terus ia bertanya-tanya “Salah saya apa?”. Banyak yang memaksanya mengaku salah saja, tetapi Sarimin yang tidak tahu apa-apa tetap bertanya “Salah saya apa?”. Dan jawab mereka “Karena kamu benar, maka kamu salah!”.


Itulah potret hukum di Indonesia yang ingin digambarkan oleh Butet cs dalam pagelarannya.


Setali tiga uang dengan kisah yang dituliskan oleh Ki Ageng dalam artikelnya “Pelecehan seksual, perkosaan dan hukum proaktif” (http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=54049&section=92).


Kisah-kisah tersebut baik yang diperagakan dalam monolog Butet maupun kisah nyata seperti yang dialami oleh korban perkosaan di Arab Saudi pada cerita Ki Ageng membawa satu pertanyaan “Justice, where are you?”.


Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang… keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatu pada tempatnya (http://id.wikipedia.org/wiki/Keadilan). Dalam bahasa Ibrani (saya mengutipnya dari kotbah pendeta di gereja saya), keadilan adalah :


- tsedeq : kepantasan, kewajaran, kebenaran

- yasyar : lurus, rata, benar, tidak bengkok

- misypat : kerelaan membela hak orang yang lemah.


Giving people what they deserve, memberikan hal yang sepantasnya dan sewajarnya. Ketika pemerintah memberikan bantuan dana untuk renovasi rumah korban gempa Yogya & sekitarnya, sejumlah Rp 3.000.000,00 (semula diusulkan Rp 30.000.000,00… cmiiw) di mana semua orang tanpa memandang sosial ekonomi, mendapatkan jatah yang sama. Bagi orang miskin yang kehilangan rumah satu-satunya, apalah arti 3 juta tersebut untuk membangun kembali rumah mereka. Pemberian bantuan tersebut disama ratakan dengan mereka yang mampu untuk membangun atau merenovasi kembali rumahnya. Bagi pemerintah, mungkin ini disebut adil, karena semua orang mendapatkan jumlah yang sama. Tetapi apakah itu layak, pantas, apakah itu adil? Ketika seorang pimpinan perusahaan memutuskan untuk memberi promosi jabatan kepada seseorang, kriteria apakah yang mendasarinya, prestasi atau relasi? Kadang-kadang sijab “sidang jabatan” diplesetkan menjadi sijak “siapa yang ngajak” sehingga kadang orang tidak menerima yang sepantasnya atas prestasi mereka.


Lurus, rata, benar, tidak bengkok… seharusnya inilah nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi oleh peradilan di Indonesia. Hakim memutuskan segala perkara dengan sebenar-benarnya. Tidak ada fakta yang dibelok-belokkan, hati harus lurus dan tidak tergiur dengan sogokan dan sokongan sana sini. Pada prakteknya banyak sekali kasus yang secara tidak adil diselesaikan dalam peradilan di Indonesia. Maling ayam dihukum sama beratnya dengan koruptor berjut jut bermilyar yar bertrilyun yun. Bahkan yang lebih miris, orang yang berbuat kejahatan lebih jahat justru bebas dari segala dakwaan dan hukuman. Tetapi tidak semuanya demikian. Setidaknya ada satu dari sekian hamba hukum yang pernah memutuskan secara lurus dan benar.


Salah satunya adalah Ny Endang Sri Murwati, SH. Beliau adalah ketua majelis hakim yang memimpin persidangan terhadap terdakwa kontroversial, Dwi Sumadji alias Iwik yang dituduh menganiaya wartawan Bernas Fuad Muhammad Syarifudin hingga tewas (kasus Udin) beberapa tahun yang lalu. Iwik adalah korban rekayasa politik yang dipaksa mengaku membunuh Udin, namun ternyata memang tidak terbukti bersalah dan hakim memutuskan untuk membebaskan Iwik dari seluruh dakwaan yang dituduhkan kepadanya. Selama kasus ini bergulir, sudah banyak teror dan aksi ancam mengancam terjadi, namun tanpa patah arang hakim dalam sidang di Pengadilan Negri Bantul tersebut memutuskan hal yang benar. Inilah keadilan. Sayang sekali, setelah itu Ny Endang Sri Murwati, SH hakim lurus tersebut kemudian dimutasi nun jauh di sana hingga tidak terdengar lagi kabar beritanya. Setidaknya sudah pernah keadilan ditegakkan di peradilan Indonesia. Mungkin masih banyak cerita baik lainnya…. Semoga.


Selanjutnya yang terakhir dan mungkin yang paling susah ya. Keadilan ternyata juga adalah kerelaan untuk membela hak orang yang lemah. Hmm… menuntut keadilan atas hak pribadi saja susah boro-boro membela hak orang lain. Saya salut terhadap perjuangan rekan-rekan yang tergabung dalam LSM maupun organisasi non profit lainnya yang memperjuangkan keadilan bagi kehidupan “wong cilik”, kaum lemah dan tertindas, dan banyak lagi perjuangan terhadap ketidakadilan lainnya. Mereka yang benar-benar murni berjuang tanpa ada maksud politik maupun untuk mencari popularitas. Mereka menyadarkan diri saya bahwa keadilan memang harus dibela dan diperjuangkan secara terus menerus tanpa mengenal lelah karena jika tidak diperjuangkan maka keadilan akan menjadi permainan dan cerita duka nestapa. Dan siapa yang paling membutuhkan keadilan tersebut? Mereka yang lemah dan tertindas. Dalam kitab suci dikatakan *kita , yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. * dan janganlah tiap2 orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. * Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka , agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.


Mungkin salah satu kisah yang dapat mewakili arti keadilan sebagai kerelaan untuk membela hak orang yang lemah adalah perjuangan dr. Y.B. Suharto yang dikisahkan oleh Lembayung dalam “Dokter, Periksa, Obat, Semuanya Lima Ribu!!!” (http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=53665&section=92). Kerelaannya untuk membuka klinik bagi keluarga pra sejahtera yang membutuhkan pertolongan medis dengan biaya terjangkau merupakan contoh perjuangannya terhadap keadilan dimana saat ini banyak sekali masyarakat kurang mampu yang kesulitan mendapatkan layanan kesehatan dan ditolak karena tidak mampu menunjukkan kartu “kurang mampu”.


Bagaimana dengan kita?


Kita lantas tidak perlu berbondong-bondong menjadi hakim untuk dapat berbuat adil, mendaftarkan diri menjadi relawan atau anggota LSM pembela keadilan, berbondong-bondong mengusung spanduk dan berteriak-teriak menuntut keadilan. Mulai dari hal yang paling sederhana, mulai dari hal yang paling dekat. Kita dapat berbuat adil dan memperjuangkan keadilan mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar kita, dalam segenap aspek kehidupan entah itu ekonomi, sosial, politik, hukum. Adil terhadap diri sendiri, di mana kadang kala kita memperlakukan tubuh kita ini secara semena-mena, tidak sepantasnya dan tidak sewajarnya. Kadang kala kita terlalu memaksa tubuh kita, otak kita, panca indra kita untuk bekerja terus menerus, siang dan malam tanpa kenal lelah, bahkan sampai lupa makan dan minum, lupa mengurus penampilan. Padahal tubuh ini perlu diperlakukan secara adil, butuh istirahat, butuh asupan gizi yang memadai, butuh air, butuh refreshing, butuh perawatan. Apakah kita sudah berlaku adil terhadap suami, istri, anak? Apakah pembantu kita sudah mendapatkan penghasilan yang layak? Dan seterusnya dan seterusnya…


Justice is human creation. Dapat diusahakan dan diperjuangkan… namun butuh kerelaan dan hati yang lurus.

Selasa, 12 Februari 2008

Koki - Senin 17 September 2007

Enaknya Indonesia, Viagra & "Ayam Perawan"


Kopdar Reef-Sekar-Wahyu Astuti

Yani Maria-Salatiga

Kopdar Pertama di Salatiga Jeng Zevie yang buaik, kokiers yang buaik buaik… apa kabar? Semoga sehat, hati gembira, pikiran waras, pekerjaan lancar, rukun, adem, ayem, tentrem.

Sabtu 25/8/2007, jam 5 sore saya cek hp saya setelah seharian dianggurin. Eh, ada SMS dari nomor yang tidak dikenal. Hp lama saya kecemplung (jatuh) dengan eloknya di lobang toilet bis malam Rajawali Solo-Bandung, beberapa minggu yang lalu, dan berakhir dengan tragis, RIP (rest in peace) dan data-data tidak terselamatkan (phone book, foto2 kenangan, video2 mesum eits ga dink, ga koleksi yang ginian hehehe). Oleh karena itu saya tebak-tebak buah manggis, siapa yang mengirim sms ini. Ternyata mbak Reef, mengajak ketemuan di rumahnya. Kebetulan saat itu Sekar dalam perjalanan ke Salatiga, hendak menginap di rumah mbak Reef. Mbak Reef pesan, kalau bisa hubungi Wahyu Astuti juga supaya kokiers dari Salatiga komplit hehehe. Sayang sekali sore itu saya tidak bisa join mereka kopdar karena ada arisan keluarga.

Saat mbak Reef sms, saya sedang berkutat di dapur dengan resep loaf pisang dari internet. Sekalinya saya masak kue (perdana), langsung buat santapan peserta arisan. (Ya Tuhan, semoga mereka yang memakan kue saya Sabtu malam tidak sakit perut, amin) hehehe. Dengan penuh perasaan, saya balas email mbak Reef, mohon maaf tidak bisa ikut kopdar sore itu. Tapi saya janji, besok (Minggu) pagi saya usahakan bisa ke rumah mbak Reef. Kapan lagi bisa ketemuan dengan kokiers? Ya nggak… Beserta itu pula saya kirimkan nomor kontak Wahyu Astuti, siapa tahu mbak Reef mau kontak dia juga. Tidak berapa lama Wahyu Astuti menelpon, ini telpon perdana Wahyu.

Selama ini kami hanya kontak lewat chatting di Gtalk, dan belum pernah mendengar suara dan bertemu muka (kalau intip2 profile di Friendster sudah pernah hehehe). Langsung saja Wahyu konfirmasi tentang agenda kopdar sore itu. Seperti yang saya sampaikan ke mbak Reef, saya tidak bisa kalau Sabtu sore, karena ada arisan keluarga. Wahyu Astuti bisa datang. Dia tanya ke saya, “Yan, mbak Reef tuh orangnya kayak apa tho? “. Blaik, saya saja belum pernah lihat foto dan ketemu je. Tapi kalau dari suaranya yang berat (hihihi… dibandingkan suara saya yang imut ehem), sepertinya mbak Reef orangnya gedhe, begitu informasi saya ke Wahyu. “Yah… ga cukup ya Yan. “, sepertinya Wahyu sudah menyiapkan souvenir untuk mbak Reef, kayaknya baju deh. Wah, gara-gara Wahyu sudah ada rencana nyiapin souvenir, saya jadi bingung sendiri. Waduh, ngasih apa ya, ke mbak Reef, Sekar, dan Wahyu. Sore itu sambil menunggu roti matang, saya obrak abrik lemari siapa tahu menemukan benda berharga. Yang ada hanya bon-bon dan kertas-kertas tak penting, sekalian beres-beres lemari ceritanya hehehe.

Malamnya, sepulang dari arisan, saya kirim sms ke Wahyu Astuti, menanyakan bagaimana acara kopdarnya dengan mbak Reef dan Sekar. Saat itu jam menunjukkan pukul 21.00. Jawaban Wahyu, “ini masih di rumahnya mbak Reef, seru yan. Besok bisa ya ketemu”. Gileeee… memang kalau 2 atau lebih kaum hawa bertemu pasti bisa makan waktu berjam – jam buat talk… talk… talk… hehehe. Ya sudah, saya kirim sms lagi ke Wahyu, besok pasti saya datang ke sana, pulang dari gereja, sekitar jam 9 pagi. Setelah saya sms Wahyu, saya bicara ke suami. “Mas, besok temani aku ke tempat temanku ya di Sraten (daerah tempat tinggal mbak Reef).” Suami saya bingung, emang kamu punya teman di Sraten. Nah ini dia… saya juga bingung menjelaskannya. Sewaktu pacaran dengannya, saya pernah minta diantar untuk ketemuan sama teman chatting saya di Yogya, duluuuu banget, dan teman chatting saya itu cowok. Ini kalau saya bilang mau ketemuan sama teman dari dunia maya, apa kata dia???? Akhirnya pelan-pelan saya cerita kalau beberapa waktu ini saya menulis beberapa artikel dan saya submit ke community kompas, namanya kolom kita.

Nah, kebetulan ada penulis kolom itu yang berasal dari Salatiga dan merencanakan ketemuan. Suami saya hanya manggut-manggut dan angop (angop tuh apa ya… menguap tanda ngantuk) trus bobok deh kita.

Minggu 26/8/2007, sepulang dari gereja, masih jam 8 pagi. Saya langsung ke dapur, menyiapkan bubur tim untuk anak saya. Baby (baca sayang) saya yang satunya lagi minta dibuatkan sarapan juga. Saya buatkan nasi tim ayam plus telur dan bayam untuk si kecil, sedangkan untuk yang tua saya buatkan sup dan telur kornet. Baru selesai masak jam 9 pagi. Teringat akan janji saya untuk ketemuan dengan mbak Reef, buru-buru saya telpon mbak Reef. Ternyata mbak Reef dan Sekar sudah menunggu saya dan rencananya mereka akan menunggu saya di jalan depan rumahnya mbak Reef supaya saya tidak kesasar. Buru-buru lagi saya siapkan anak saya dan sarapan dulu (laper je). Sepakat dengan suami, kami naik motor saja. Sraten dari rumah saya tidak terlalu jauh (dan benar-benar sangat dekat, hanya 5 menit!!) dan anak saya suka sekali naik motor. Mbak Reef pesan, rumahnya tidak jauh dari perempatan Sraten, pagar putih tinggi dan nanti mbak Reef akan nunggu di jalan, pakai baju merah. Ah, gampang… “Pada hari Minggu kuturut papa ke desa, naik motor istimewa kududuk di tengah…” begitu lagu yang saya nyanyikan sambil menikmati pemandangan sawah di kiri kanan yang saya lalui dalam perjalanan ke rumah mbak Reef.

Ternyata dari rumah saya ke rumah mbak Reef itu hanya jalan lurussssss truuuuusss ga pakai acara belak belok. Ndelalah sudah sampai di perempatan Sraten. Saya clingak clinguk kiri kanan, cari mana rumah pagar putih dan cewek berbaju merah. Kok ndak ada? Suami saya tanya, yang mana? Wah, kayaknya salah nih. Begitu saya mau kontak mbak Reef, eh ternyata hp saya bergetar, ada panggilan masuk. Spontan saya jawab “Hallo mbak Reef, kayaknya saya kebablasan deh.” hehehe ternyata iya. Mbak Reef tadi lihat ada orang pake baju ijo, naik motor, bawa bayi clingak clinguk. Ini pasti Yani hehehe. Ternyata kelewatan rumah mbak Reef, yang tidak berpagar putih (tapi abu2, silver), dan mbak Reef menunggunya bukan di jalan tapi duduk-duduk di depan rumah. Bertemu dengan mbak Reef dan Sekar cipka cipiki… kenalan sama suami dan anak saya. Wah… serasa kita ini teman sekolah yang sudah lama tidak berjumpa. Kayak sudah kenal berabad-abad lamanya. Setidaknya perasaan seperti itu yang saya rasakan.

Kami mengobrol di ruang tamu rumah ibu mbak Reef yang bernuansa tradisional Jawa dan sangat adeeeemmmmm (eh iya lupa, Salatiga khan emang adem hehehe). Anak saya mulai minta melantai. Dia asyik merangkak dijaga oleh papanya, dan saya asyik berbincang-bincang dengan mbak Reef dan Sekar. Sewaktu bersalaman, mbak Reef nyeletuk “ini lho Yani Maria yang lagi naik daun di koki” (aduh mbak kok naik daun thoooo??? Saya baru nulis dikit lho) dan suami saya sambil tertawa kebingungan berkata “lha saya nggak tahu dia itu nulis apa” hehehehe. Akhinrya Wahyu Astuti datang. Dari dalam sudah heboh terdengar suara Wahyu yang baru berjalan di halaman rumah mbak Reef. Hahahaha, akhirnya ketemu juga sama tetangga saya yang satu ini. Sekota kok nggak pernah ketemu, apalagi Salatiga gitu lho, segedhe apa sih? Untung ada mbak Reef yang mempertemukan kami ya, thanks to her.

Empat orang wanita, ditemani oleh seorang pria beristri dan anaknya, dilengkapi dengan jajanan sus kering dan bagelen, plus teh manis hangat, dan menyusul adalah bakwan jagung yang baru keluar dari penggorengan, obrolan kami berlangsung ringan, rame, dan penuh dengan canda tawa, tentang keluarga, pekerjaan, tulisan-tulisan di koki, kokiers, om JC, om Prabu, om Jhonny Lubis. Mbak Reef ternyata cerewet juga, adaaaaaaaaa sajaaaaaa bahan obrolan dengan dia. Seru!

Sekar, hahahaha ini dia. Cewek “tidak asli” yang membuat saya menganga karena ternyata dia satu tahun di bawah saya. Hahahaha asem, asem… tapi emang Sekar teopebegete… Wahyu, aduhhh mbak mbak… kita cengangas cengenges aja ya berdua. Kalau saya dan Wahyu seumuran. Di sepanjang obrolan kita, hp ber-ringtone Tukul “empat mata” nya sering banget bunyi. Ternyata ada temannya lagi curhat hahahaha. Kapan-kapan bisa dicurhati donk ya hehehe. Secara fisik, ketiganya jauuuuuh dari imajinasi saya sebelumnya. Mbak Reef saya pikir orangnya tinggi besar, soalnya suaranya gedhe. Ternyata yahh… kita ga jauh beda ya mbak, Cuma saya lebih berbobot hehehe. Sekar juga, perasaan foto di Friendster sama Lembayung dia kelihatan gedhe, ternyata kita juga tidak jauh beda.Wahyu juga… sama saja! Jadi kita berempat ini kelompok kokiers cewek yang cantik dan imut hehehe. Itu kesamaan kita hahaha. Tidak terasa sudah hampir 2 jam berlalu.

Sayang sekali saya tidak bisa berlama-lama dengan mereka. Pertama, anak saya sudah mengantuk dan lapar. Kedua, kami ada agenda wajib setiap minggu ke rumah mertua, acara temu kangen eyang dan cucunya. Saya tinggalkan rumah mbak Reef dengan penuh harap, semoga suatu saat kami dapat berjumpa lagi. Kemungkinan dalam waktu dekat saya mau ke Solo, mau nodong Lembayung hehehehe. Di akhir tahun ini saya berencana menghabiskan malam pergantian tahun di Yogya. Sekar menawarkan untuk kami menginap di padepokannya. Mbak Reef minggu ini sudah kembali ke Australia. Wahyu Astuti, kemarin diantar rame-rame ke kostnya di Semarang hehehe.

Zevie yang sudah bersusah payah mengelola koki, terima kasih atas semua jerih payahnya selama ini. Ini adalah kopdar tersukses dengan teman maya saya selama ini. Dan saya sangat beruntung bisa berjumpa dan berkenalan dengan kokiers yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Sama dengan kopdar2 sebelumnya yang diceritakan di sini, kami bertemu dan berkata-kata seolah sudah kenal lama. Maju terus koki, dan selamat ulang tahun yang kedua yaaaa…..

Salam manis untuk mbak Reef, Sekar, dan Wahyu Astuti. Terima kasih untuk perbincangannya Minggu siang yang teduh di Salatiga. GBU.

Koki - Kamis 09 Agustus 2007

Budaya Malu, Penguburan Masa Kini & Hidup Bertapa (AS, Mesir, Perancis)

Jadi Detektif
Yani Maria - Salatiga

Duh dah lama tidak menulis di koki rasanya gatal sekali tangan ini. Ternyata untuk memulai lagi rasanya kok susah sekali. Diam sesaat, bingung mau nulis apa. Padahal kalau lagi tidak di depan compi, ide-ide mengalir bak air bah. Coba ada disk writer yang langsung mentransfer sinyal-sinyal di otak dan langsung dikonversi ke word processor, hehehe… Untuk pemanasan coba menulis yang ringan-ringan saja, based on true story (paling gampang). Cerita ini tentang pengalaman saya menangkap seorang pencuri. Well, saya bukan polwan dan saya ini bukan intel lho (soalnya sudah ada Ki Ageng, si intel koki) tapi saya pernah mengalami menjadi seorang detektif dalam artian “detektif-detektifan”.

Februari 2006 adik bungsu saya yang masih duduk di kelas 3 SMU ngotot ingin ke Bandung. Ortu saya, terutama papa (alm) tidak mengijinkan dengan alasan, sudah kelas 3, sebaiknya mempersiapkan ujian nasional yang sudah di depan mata. Pintarnya dia, telpon ke saya yang saat itu masih dinas di Bandung, mengatakan bahwa dia akan ke Bandung dan sudah mendapat ijin ortu, berangkat lusa. Saya langsung pesan kamar hotel untuk adik, karena kost saya tidak memperbolehkan cowok menginap, entah itu bapak sendiri atau saudara (kejam…!). Begitu saya konfirmasi ke rumah, ortu kaget karena mereka sebenarnya tidak mengijinkan, tetapi karena sudah terlanjur reservasi dan saya yang menjamin keselamatan adik selama di Bandung akhirnya mereka setuju.

Selama di Bandung, adik saya mengaku sudah kontak temannya sehingga saya tidak perlu repot untuk mengurus dia. Hari itu saya ada workshop di Cipanas sehingga saya tinggalkan dia dengan HP CDMA dan kamera digital.

Singkat cerita saya sampai kembali di hotel sore hari sekitar pukul 18.30. Adik saya terduduk lesu di lobi hotel. Mak deg… perasaanku nggak enak nih. Benar saja, begitu melihat saya datang, dia langsung berlari memeluk bilang “minta maaf” dan “saya ini bodoh sekali” berkali-kali (kalau ingat kejadian tempo itu, saya suka senyam senyum sendiri, adik laki-laki saya yang sehari-hari tampak cool seketika jadi seperti anak umur 5 saat datang memeluk saya sambil menangis hahaha). Ternyata, yang dianggap teman oleh dia, sudah mencuri 2 HP (salah satunya HP saya) dan kamera digital saya. Aduhhhh nyesek deh. Kamera itu belum lunas mbayarnya (kredit, 7x booo… nyobain promo dari credit card), baru 1x dicicil.

Jadi ceritanya, dia diajak oleh temannya itu jalan-jalan keliling Bandung sampai sore dan disuruh kembali ke hotel untuk mandi dan ganti pakaian karena malamnya mau jalan lagi. Saat adik mandi, temannya itu langsung melancarkan aksinya. Menggeledah kamar dan mengambil barang berharga. Belakangan setelah saya interogasi mati-matian adik saya baru mengaku kalau temannya itu baru dia kenal 1 bulan dari chatting!!! Dia hanya tahu nama panggilannya (yang ternyata bukan nama aslinya), kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung, rumahnya di Setiabudi Regency, dan bekerja sebagai pramugara salah satu maskapai penerbangan di Indonesia. Nomor HPnya pun adik saya tidak ingat. Untung… adik saya pernah menelpon dia dari HP CDMA saya.

Gotcha! Secara saya ini bekerja di perusahaan pertelponan langsung saya melihat call record dari nomor CDMA saya tersebut dari database sistem keesokan harinya.Ada nomor yang diyakini adik saya sebagai nomor temannya, si pencuri itu. Walaupun dia tidak hapal nomornya tapi ingat persis jam berapa dia menelpon. Saya coba telpon nomor itu berkali-kali. Terdengar nada tunggu tetapi tidak pernah diangkat. Yang saya ingat, ada ring backtone-nya lagu boys band kalau tidak salah Westlife pa ya, aduh cemeng banget nih maling. Tidak berhasil, saya serbu dia dengan SMS. Berhari-hari saya terror dia. Saya katakan, saya tahu siapa dia, saya tahu di mana dia tinggal, tolong kembalikan barang yang dia curi, atau saya lapor polisi (sebetulnya amit-amit deh lapor polisi, ntar saya malah yang keluar uang ekstra). Sembari saya coba telusuri lagi, nomor HP dia itu. Waktu itu musimnya nomor HP pra bayar harus registrasi ke operator atau diblockir.

Dengan harap-harap cemas, saya coba peruntungan saya kali ini dengan kontak teman saya yang kerja di operator provider nomor HP si pencuri tersebut. Ternyata nomor itu adalah nomor pasca bayar. Sebagaimana diketahui, untuk mendapatkan nomor pasca bayar, pelanggan harus mendaftar dengan mengisi form identitas. Karena alasan penting dan “kita berteman sudah lama” akhirnya teman saya tersebut bersedia mengeluarkan data-data si pemilik nomor alias si pencuri itu, LENGKAP! Kembali saya sms dia bertubi-tubi kali ini dengan ancaman saya benar-benar akan datang meringkus dia di rumahnya dan saya sertakan pula alamat rumah dia sebagai bukti saya tahu di mana dia tinggal, sehingga dia tahu ini bukan sekedar gertak sambal dari seorang Yani Maria.

Akhirnya di suatu pagi yang cerah, hari itu hari Jumat, 2 minggu setelah kejadian, ada telpon masuk dan ternyata dari si pencuri itu!!! Girang bukan kepalang saya, akhirnya usaha saya menemukan dia ada titik cerahnya. Dari hasil pembicaraan tersebut, saya diundang ke rumahnya untuk mengambil barang yang sudah dia curi 2 minggu yang lalu!!! Untung saya masih bisa berpikir jernih, tidak bertanya, “rumah kamu di mana?” tapi saya jawab “OKE! Nanti siang saya ke rumahmu”. Siapa tahu itu hanya telpon coba-coba, nge-test apakah saya benar-benar tahu rumah dia atau tidak. Saya datang ke kantor dan menculik salah satu teman saya yang punya potongan SATPAM hahaha bukan dink, untuk ukuran seorang SATPAM teman saya ini terlalu dandy. Ah, yang penting cowok yang tinggi besar rambut cepak (biar dikira intel) untuk menemani saya ke rumah si maling. Seharusnya saya mau bawa serombongan cowok-cowok (teman kantor) yang bertampang sangar, tapi sayang sekali saat itu awal bulan, pekerjaan menumpuk. Ya sedapatnya saja.

Dengan kecepatan penuh saya melaju ke rumah si pencuri itu yang ngakunya ke adik saya tinggal di Setiabudi Regency tapi tidak (tetangganya sih, nggak jauh-jauh amat. Mau nipu kok ngirit banget… ). Alamat dia yang saya peroleh dari hasil cross check ke teman di provider, belum pernah saya dengar seumur hidup saya di Bandung. Tapi dari database alamat saya ketahui itu nama daerah di Lembang. Jauh booo…. Ternyata rumahnya tepat di pinggir jalan jadi saya tidak susah mencarinya. Saat sampai, turun dari mobil, kok malah saya yang deg-degan dan gemetar nggak karuan. Waduh, salah nih. Harusnya khan dia ya yang ketakutan. Sudah kepalang tanggung, akhirnya saya dan teman kantor saya mengetuk pintu rumah itu dan dibuka oleh seorang pemuda, masih muda, tinggi, kurus, lagi batuk-batuk, ngakunya sakit setelah di-SMS saya setiap hari hahaha… Bedaaaa sekali dari bayangan saya tentang seorang pencuri yang tinggi, besar, sangar. Yang ini, aduuuuuh disentil saja dia melayang.

Seketika itu saja saya tidak jadi gemetar dan langsung nyerocos “menasihati” cowok itu. Saya ingat mengatakan “hati-hati. Jaman sekarang ini teknologi semakin canggih. Kamu mau lari ke mana asal saya punya akses terhadap teknologi, saya bisa menemukan kamu” halah… kalau ingat kalimat spontan itu, saya jadi ketawa sendiri. Sok ilmiah banget hahaha… Setelah urusan serah terima barang-barang curian selesai, saya pamit. Eh… sambil menjabat tangan saya dia sempat bilang “Sering-sering main ke sini ya teh, untuk menjalin silaturahmi”. Gubrak, baru kali ini ada pencuri ngomong seperti itu, menjalin silaturahmi… bah!

Setelah kejadian itu, adik saya lulus SMU dan kuliah di Bandung. Dan ternyata, aksi si pencuri tersebut masih berlanjut. Kali ini korbannya adalah teman kuliah adik (baru sadar, dunia ternyata begitu sempit!!!). Entah modus operandinya sama, mencari korban dari chatting, mengajak ketemuan, jalan-jalan untuk kemudian dicuri barang-barangnya atau bagaimana. Tetapi sekarang nasibnya berakhir di penjara. Korban terakhirnya ternyata mempunyai kakek cenayang nun jauh di Kalimantan sana yang bisa menunjukkan rumah si pencuri tersebut, rumah yang sama dengan rumah yang saya datangi beberapa bulan sebelumnya. Kali ini polisi lah yang menciduknya.

Wah, ternyata sekali lagi selain teknologi, kemampuan indera ke-6 juga berhasil memecahkan suatu tindak kriminalitas ya. Hehehe… Moral of this story, hati-hati dalam memilih teman. Sekarang ini banyak sekali orang yang pura-pura baik, tapi memiliki maksud jahat, apalagi di dunia maya dimana kita tidak tahu apakah lawan kita tersebut jujur atau tidak. Kedua, pelihara hubungan yang baik dengan teman (kali ini benar-benar teman) atau kenalan anda. Suatu saat mungkin anda membutuhkan pertolongan mereka.

Matur nuwun Zev, kokiers, kokoers, eltiers…


Cairan Emas yang Berkhasiat

Yani Maria - Salatiga

Hallo Zev dan kokiers, semoga senantiasa berbahagia…

Di kantor saya, beberapa karyawan memanfaatkan “kotak” tempat kerjanya sebagai warung untuk jualan. Jual apa saja yang bikin saya terheran-heran saat pertama kali menapakkan kaki di kantor ini. Soalnya ada yang memajang tulisan “Di sini jual voucher”, “Sedia pulsa dan voucher elektronik”, dll. Ada juga yang memajang barang dagangannya di atas meja, mulai dari krupuk, cemilan, baju, minuman kesehatan, dll. Hehehe… pasti pada heran, ini kantor atau pasar sih? Tapi tidak ada yang komplain tuh. Justru kita merasa tertolong. Kalau lapar tinggal ke meja yang jual cemilan. Kalau hp minta direfill, tinggal cari yang jualan voucher, bisa milih lagi mana yang paling murah. Nah, saya bukannya mau cerita tentang perdagangan di kantor, tapi saya mau cerita tentang salah satu barang dagangan yang sedang dijual oleh rekan kerja saya persis di sebelah saya.

Tadinya saya pikir itu kotak wafer Tango rasa vanila (sebut merk gpp ya, bukan promosi kok) soalnya mirip dari jauh apalagi bila dipandang dengan perut keroncongan. Setelah dilihat dari dekat, ternyata itu bukan kotak wafer, melainkan kotak susu skim dengan kolestrum, salah satu minuman yang dipercaya dapat meningkatkan antibodi dan menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti darah tinggi, rematik, jantung, stroke, diabetes, dsb.

Kolestrum atau biasa disebut cairan emas adalah cairan pra-susu yang berwarna kekuning-kuningan (hampir seperti nanah kali ya), dihasilkan oleh mamalia (manusia juga termasuk) setelah melahirkan (lebih spesifik lagi, manusia berjenis kelamin perempuan soalnya laki-laki tidak (atau belum?) bisa hamil). Biasanya kolestrum ini dihasilkan pada 24 jam pertama setelah melahirkan, pada manusia.

Bayi yang baru lahir, sebaiknya langsung diberikan ASI oleh sang ibunda karena ASI yang keluar pertama kali mengandung kolestrum. Dalam tiap tetes kolestrum terkandung jutaan zat antibodi yang sangat berguna bagi bayi. Ketika baru lahir, tubuh mungil bayi tidak bisa membuat zat antibodinya sendiri sehingga butuh dibantu dengan kolestrum agar terbentuk zat antibodinya. Kolestrum juga mensuplai faktor pertumbuhan pendukung kehidupan dengan kombinasi zat gizi yang sempurna (vitamin, mineral, asam amino) dan jika semua unsur ini bekerja secara sinergis dapat bermanfaat untuk menjamin kelangsungan hidup dan kesehatan tubuh, terutama bagi bayi yang baru lahir.

Kolestrum ini hanya akan ada sekali. Seringkali karena si ibu tidak memiliki pengetahuan akan kolestrum, saat pertama kali mendapati cairan kekuningan tersebut, langsung dibuang karena dikira nanah. Padahal itulah kolestrum yang sangat dibutuhkan bayinya. Sangat disayangkan juga, beberapa rumah sakit dan rumah bersalin langsung memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir, bukannya memberikan kesempatan pada si ibu untuk menyusuinya dengan ASI. Namun juga tidak semua ibu yang setelah melahirkan mampu menyusui bayinya, karena ASI nya sama sekali tidak keluar (biasanya karena masalah hormon).

Nah, karena kolestrum manusia itu tidak selalu ada, maka dicarilah alternatif sumber lainnya, salah satunya adalah sapi. Sapi juga menghasilkan kolestrum, disebut bovine colostrums. Kalau pada manusia hanya muncul 24 jam setelah melahirkan, kolestrum sapi bisa lebih lama, 48 jam setelah melahirkan. Menurut penelitian, kolestrum yang dihasilkan oleh si mooooowww ini sangat mirip dengan kolestrum manusia. Bahkan, dinyatakan bahwa kolestrum sapi bisa empat kali lebih kaya faktor imun-nya daripada kolestrum manusia.

Produk-produk yang mengandung kolestrum semakin mudah kita temui. Biasanya dikemas dalam bentuk susu bubuk sachetan. Belum pernah mencoba sih… tapi katanya bermanfaat untuk meningkatkan kebugaran, mengurangi lemak tubuh tanpa diet, menguatkan tekstur kulit, meningkatkan daya ingat, menghilangkan kerutan, meningkatkan suasana hati (????), memperbaiki fungsi imun dan meningkatkan perlindungan terhadap penyakit yang terkait dengan kekebalan tubuh. Ckckck.. saya tidak sedang jualan produk kolestrum lho. Hanya share saja. Siapa tahu ada yang sudah mencobanya. Saya tertarik khasiatnya yang itu lho… mengurangi lemak tubuh tanpa diet hehehe…

Terima kasih Zev kalau dimuat.

Koki - Rabu 18 April 2007

Swearing, Virginia Tech & Rasis (Hamburg, California, Jakarta)

Terlantar... Telat...
Yani Maria - Central Java

Hallo Zev, aku mau cerita pengalaman pagi ini. Seperti biasa, aku harus naik bis PATAS AKDP (antar kota dalam propinsi) ke kantor. Start jam 6 pagi dari rumah. Biasanya nunggu 5 menit, langsung dapat bis. Biasanya juga nggak usah ngawe-ngawe (melambaikan tangan buat nyetop bis), bisnya sudah minggir ke tepi jalan untuk ngangkut aku yang notabene udah langganan gitu looh. Tapi pagi ini, 3 bis lewat cuek melihatku. Kupikir Oooo... mungkin bisnya penuh jadi nggak terima penumpang baru. Ternyata eh ternyata, masih banyak kursi yang kosong di bis itu. Wah, ada apa ini???

Calon penumpang bis sudah pada gelisah di halte. Lha soalnya sudah jam setengah 7 lewat, padahal harus masuk kantor jam 7 atau setengah 8. Selidik punya selidik, tanya sana tanya sini, ternyata mereka (sopir bis dan crew) sengaja tidak mengangkut penumpang lebih karena sedang ada sidak (inspeksi mendadak) juragannya di terminal depan.


Jaman sekarang, crew bis pada bawa HP, jadi bisa calling - callingan sama petugas kontrol di terminal atau bis yang sudah duluan berangkat. Ck... ck... ck... Jadi, juragannya itu setiap hari mematok setoran terlalu tinggi, padahal penumpang sepi. Crew bis sudah lapor ke bossnya, kalau penumpang sepi tapi big boss nggak percaya. Memang sih tidak setiap hari sepi, ada hari-hari tertentu penumpang membludak seperti hari Senin dan hari Jumat. Tapi di antara hari itu, ya sepiiii. Juragan nggak mau tau, pokoknya setiap hari setoran harus sama (seperti hari ramai).


Makanya hari ini mereka sengaja tidak mengangkut penumpang untuk membuktikan ke bossnya ini lhooo... kosong khan bisnya... jadi setorannya jangan tinggi-tinggi donk... dan ternyata juga, kita-kita yang sudah langganan ini, tidak dilaporkan ke boss, makanya tidak pernah diberi karcis. Bagi sopir dan crew, penumpang langganan itu jadi bonus. Ongkosnya masuk kantong mereka, dibagi-bagi antara sopir, crew, dan petugas kontrol di terminal. Katanya, kalau nggak ngambil dari situ, mereka nggak pernah dapat insentif. Ya... ya... ya... tapi jangan ngorbanin penumpang tho yaaa??? Sampai-sampai aku terlambat masuk kantor hari ini. Yo wess... gitu aja dulu...

Koki - Selasa 12 Juni 2007

Sepeda Onthel, Bullfighting & Yohimbe (AS, Prancis, Jepang)


My Wedding
Yani Maria - Joglosemar

Hi Zev, Kokiers around the world, semoga sehat dan berbahagia.

Gara-gara baca artikel Royal Wedding, saya jadi terbawa ke moment 2 tahun yang lalu, ke pernikahan saya sendiri.

Karena tidak mau repot (huhuhu tipikal orang Indonesia???), maksudnya tidak mau merepotkan orang tua maka saya menggunakan jasa wedding organizer untuk mengurus semua keperluan pada hari H (dekor gereja,gedung resepsi,konsumsi).

Sedangkan undangan, bridal, souvenir, dokumentasi yang jadi satu dengan paket pre-wed saya urus sendiri. Maksudnya biar lebih hemat, soalnya kalau include ke jasa wedding organizer pasti nambah lagi fee-nya :(.

Saya mengambil cuti 3 hari sebelum hari H. Mepet banget soalnya yakin pada jasa wedding organizernya. Namun sebaik-baiknya rencana itu diatur, tetap saja ada detail yang terlupakan. Tapi kalau ini mah fatal. Saya lupa item kamar pengantin. Memang rencana kami, malam pertama di rumah saja. Pakai kamar tidur yang sudah direnovasi. Problemnya, saya belum merencanakan dekorasi kamar pengantin.

Akhirnya dengan berbekal kemampuan berkreasi ala kadarnya, contoh-contoh dekor di majalah, saya nekad mendekor kamar pengantin itu sendirian. Seharusnya 3 hari yang tersisa sebelum hari H saya gunakan untuk mandi susu, mandi madu, luluran, spa, creambath, manicure, pedicure, facial, dan segala tetek bengek perawatan pre-wedding, lha ini kok malah serabutan mencari bahan-bahan untuk dekorasi, pita, bunga, kain-kain, dsb. Semuanya saya cari sendiri. Bunganya pun karena yang saya cari bunga lily nggak ada di pasar, bunga plastiknya pun jadi. Hahaha...

Yang kacau lagi, pada saat mendekor. Saya lakukan hari Kamis malam, setelah membeli semua bahan dan perlengkapan (Jumat malam: malam midodareni, Sabtu pagi: pemberkatan nikah). Saya pikir pekerjaan dekorasi itu mudah. Desain sudah terbayang, tinggal pasang ini itu, tempel sana sini. Ternyata susaaaaah. Merangkai bunga-bunga, mengatur letak ini itu sesuai desain di kepala sangat susah dipraktekan. Alhasil saya frustasi sendiri. Jari-jari tanganku sudah tergores sana sini karena memotong tangkai bunga mawar, kuku juga jadi hitam karena terkena getah dari tangkai bunga.

Kamar porak poranda karena barang-barang digeser sana sini. Ditambah lagi... pesanan sprei datang. Ternyata oh ternyata sangat mengecewakan. Warnanya itu lho, blink blink. Dari bahan satin tapi karena kainnya tidak cukup, penjahitnya menambah kain lagi dan jahitannya itu terpampang di tengah2 tempat tidur saat dibentangkan. Sambil menangis histeris saya minta sprei itu dikembalikan, tidak usah dipasang saja, jangan dibayar, pokoknya harus ganti rugi. Saya heran, padahal penjahit itu sudah profesional banget untuk urusan sprei, korden, dsb. Tapi kok waktu itu hasilnya jelek buanget ya.

Kalau ingat Kamis malam itu jadi geli sendiri. Setelah tenang, dengan sisa kekuatan yang ada saya melanjutkan acara mendekor kamar pengantin itu. Seadanya saja. Bunga-bunga saya ikat pakai kawat dan diselotip saja. Sampai hari ini bekas2 selotip itu masih nempel dengan setia di ranjang kami hahaha. Untuk sprei, besoknya sprei baru dengan model dan motif yang sesuai dengan yang saya inginkan diantarkan ke rumah beserta dengan permintaan maaf dan bonus ini itu. Lumayan...

Hari Jumat, suami baru datang dari tempat dinasnya. Hari itu jam setengah 3 sore kami ada percakapan gerejawi. Padahal jam 5 acara midodareni, dan jam setengah 4 saya harus siap di salon untuk didandani. Mepet lagi, mepet lagi. Ternyata sepanjang hari hujan turun. Bahkan sialnya lagi, saat mau berangkat ke gereja, ban mobil tertanam di tanah yang lembek karena seharian tersiram air hujan. Dengan hujan-hujanan suami, saudara-saudara berusaha mengeluarkan ban itu, termasuk saya juga ikut-ikutan memayungi. Waktu di gereja, saat percakapan itu, saya dan suami menggigil kedinginan. Dan tidak sadar, celana jeans saya masih tergulung 3/4. Hahaha... Untung percakapan lancar... tapi...

Jam 4 saya baru sampai di salon. Itu pun sudah hampir diomelin ama periasnya karena dia hanya punya waktu 1 jam untuk make over saya (ehm, udah cantik, ga usah dimake over siy). Benar saja Zev, jam 5 kurang 15 saya belum selesai. HP saya bunyi terus, ditelpon dari rumah, dari suami. Bahkan hair stylist jadi ikut-ikutan grogi untuk menyelesaikan tugasnya di detik2 terakhir. Jam 5 tet saya cabut dari salon. Saya dijemput adik, tapi saya tahu adik saya itu kalau naik mobil drive slow and safe. Kapan sampainya? Saya rebut posisi sopir dan saya yang mengendarai sendiri mobil itu dengan kecepatan tinggi sampai hampir nabrak bus. Hujan masih rintik-rintik, begitu saya sampai di ujung jalan kompleks perumahan yang sudah dipenuhi kendaraan para tamu yang ternyata sudah hadir!!!

Spontan saya loncat dari mobil dan berlari menghindari hujan. Tamu-tamu yang sudah hadir langsung tunjuk-tunjuk, lha itu pengantinnya kok pencilakan gitu. Hehehe... Ortu saya sudah cemberut menahan murka sambil bergegas menyuruh saya ganti pakaian kebaya yang sudah disiapkan. Untung pakai kebaya modern yang sudah dimodifikasi jadi tinggal pakai dan beres... Pokoknya ON TIME tapi gembrobyos gara-gara harus berlari-lari. Oya, walaupun sudah cantik begitu... kuku tangan saya masih hitam2 gara-gara getah bunga semalam. Duh... untung malam, tidak ada yang merhatiin. Nanti saja saya permak, buat besok hari H, pikir saya.

Hari Sabtu, saat hari H. Acara lancar dari pagi sampai resepsi selesai. Saat fotografer meminta kami foto di kamar pengantin, buru-buru saya bilang "tidak usah mas, kami sudah capek. ntar foto2 sendiri aja. soalnya kamarnya di rumah." huhuhu padahal malu tuh dengan hasil dekor sendiri. Tapi memang satu hari itu capek sekali.

Sewaktu ganti baju, melepas sarung tangan (karena saya pakai gaun pengantin barat), saya baru sadar. Olala... kuku saya kuteks nya cuma sebelah tangan saja!!! Baru ingat, semalam saya memang membersihkan kuku dan memakai kuteks. Tapi baru sebelah tangah, saya berhenti karena nimbrung rumpi dengan saudara-saudara, setelah itu tidur karena sudah larut. Hahahaha... untung pakai sarung tangan, jadi tidak ketahuan!.

Itulah pengalaman pada hari pernikahan saya. Lucu saja kalau diingat-ingat.

Trims ya Zev.

Koki - Senin 11 Juni 2007

Eoyal Wedding, Meses & Demam Kontes (Brunei, AS, Inggris)

ANAK SUKU MORI
Yani Maria-Joglosemar

Hallo Zev dan Kokiers di mana pun anda berada. Semoga dalam keadaan sehat dan berbahagia.

Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki beragam suku, name it! Ada Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Minang, Bugis, Dayak, dll. Itu baru suku-suku yang terkenal, saya belum pernah menghitung ada berapa banyak sih suku di Indonesia.

Saya sendiri berasal (dilahirkan) dari orang tua suku Mori (bukan Maori dari Philipines lho). Opo kuwi?

Jarang lho ada yang tahu suku Mori ini. Sampai-sampai di data HRD saya, kolom suku ditulis : TIDAK DIKETAHUI. Waduh... sedihhhh banget ya ditulis gitu, kesannya saya ini alien saja. Sewaktu saya protes ke HRD, mereka mengatakan bahwa suku Mori tidak terdaftar dalam database nama suku. Sempat mereka menawarkan, mau tidak dicantumkan suku saya Manado, Bugis atau Jawa saja, soalnya wajah saya sangat Manado tapi medok Jawa ... :D

Karena berniat melestarikan kesukuan yang hampir tak terdengar ini jadi saya ngotot kalau tidak Mori ya tidak mau. Namanya juga sistem, kalau tidak ada datanya ya ditulis TIDAK DIKETAHUI alias UNKNOWN. Hiks... hiks...

Kembali ke soal suku Mori...

Suku Mori ini adalah salah satu suku di Indonesia yang mendiami wilayah Sulawesi Tengah. Tepatnya berada di wilayah Morowali. Kalau Morowali berarti gemuruh (begitu artinya kalau dalam bahasa suku Wana, salah satu suku di Morowali juga). Mbuh kalau dalam bahasa Mori, saya harus tanya ke kakek saya yang ahli tentang suku Mori. Tapi sayang di kampung kakek saya di Waraa, salah satu desa di sana, belum ada telpon!!!.

Kakek saya kalau menelpon ke rumah harus pergi ke wartel yang ada di kecamatan Beteleme, kira-kira 30 menit dari Waraa. Kalau kita ingin menghubungi saudara di sana, saya harus menelpon ke wartel itu, lalu minta disambungkan ke kantor camat. Nanti orang kecamatan memanggilkan saudara saya yang rumahnya tidak jauh dari situ.

Jangan ditanya bagaimana dengan telpon seluler, bodynya aja yang ada tapi sinyalnya blank. Bisa sih pakai handphone, tapi supaya dapat sinyal harus pergi ke kilometer 3, ke arah Kolonedale, yah... kira-kira 30 menit lagi dari Beteleme. Kata saudara saya, kalau malam minggu kadang-kadang di kilometer 3 itu sering jadi tempat nongkrong orang-orang kampung yang ingin menelpon menggunakan HP.

Segala cara dilakukan agar dapat sinyal, mulai dari menggoyang-goyang HP ke udara, naik ke pohon atau bukit, pokoknya kalau kita melihat kegiatan malam minggu itu, pasti tersenyum geli, soalnya lucu-lucu. Tapi katanya tahun ini akan dibangun BTS di kecamatan Beteleme, jadi mudah-mudahan komunikasi bisa lebih lancar.

Seumur hidup, baru 5 kali saya ke kampung orang tua saya di Morowali. Pertama kali waktu saya masih berumur 3 tahun kalau tidak salah (tahun 80 an). Waktu itu belum ada trans Sulawesi. Jadi untuk mencapai kampung, dari Makassar, ke Soroako dengan transportasi darat, lalu menyebrang danau (namanya saya lupa) lalu menerobos hutan. Di album foto keluarga, ada satu foto yang mendokumentasikan perjalanan pulang pertama saya itu.

Di foto itu, saya dan papa mama sedang camping. Yah, perjalanannya jauh boo, jadi harus menginap di hutan. Selanjutnya kami sekeluarga rutin pulang per 5 tahun sekali. Dulu waktu harga tiket pesawat masih selangit, kita menggunakan kapal laut ke Palu. Dari Palu naik bis, lewat Poso, Tentena, baru ke daerah Morowali. Total perjalanan bisa 5 hari 4 malam.


Sekarang masih naik kapal juga, tapi tidak lewat Palu lagi, tapi ke Makassar, naik bis ke Soroako, nyebrang danau ke Nuha, lanjut dengan bis lain ke daerah Morowali. Kayaknya jauh juga ya, tapi lebih irit waktu, 3 hari 2 malam lah sampai dan lebih aman, karena sekarang kondisi di Poso sedang tidak kondunsif. Salah-salah bisa kena peluru atau bom nyasar... hiiiy serem.

Terakhir saya pulang, tahun 2000. Selama 5 kali pulang itu, saya merasakan perkembangan daerah di Morowali masih sangat lambat. Boro-boro ada mall, telpon seperti yang saya ceritakan di atas saja masih seperti itu kondisinya. Apalagi sarana yang lainnya. Bayangkan, di tahun 2000 listrik di kampung ortu saya hanya nyala di sore hari, dari jam 6 sore sampai subuh. Siang hari tidak ada listrik. Kalaupun ada, itu karena menggunakan mesin diesel. Tapi rata-rata rumah di sana pada memasang parabola dan punya kulkas. Jalan yang sudah diaspal dilalui mobil-mobil kijang baru (tahun 2000 itu) yang kalau jalan ngebut semua (maklum jalan baru, mulus, dan lurus pun sepi pula).

Kok pada sugih ya? Ternyata mereka ini dapat uang banyak hasil dari panen coklat di tahun itu yang laris manis... Sayang, listriknya byar pet...Jadilah kulkas-kulkas menjadi lemari pajangan saja. Ngga tau juga sekarang listrik sudah 24 jam atau belum. Saya sudah sempat merasakan mandi air PAM. Tapi itu harus mandi bareng-bareng di pemandian umum di pinggir jalan. Campur, laki-laki dan perempuan.

Dari rumah jalan kaki ke pemandian umum itu dengan berlilitkan sarung atau jarik (bahkan ada yang nekad cuma kembenan handuk!) sambil menenteng ember berisi peralatan mandi. Perasaan saya waktu jalan setengah telanjang gitu di pinggir jalan maluuu banget. Apalagi banyak truk yang lewat. Supir truk khan paling ga tahan lihat pemandangan kayak gitu, gatel pengin suit suit... Kalau malu, ya mandi di rumah saja. Di rumah nenek sudah ada kamar mandi, tapi memakai air sumur yang warnanya agak keruh hihihi.

Suku Mori kebanyakan sudah modern. Kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai petani (ladang, bukan sawah karena curah hujan sedikit), atau menggarap kebun baik kebun milik sendiri maupun milik PTPN XIV yang mengelola karet. Yang punya modal, yah menjadi pedagang keliling atau buka toko di kecamatan.

Yang punya ijazah sekolah, yah... jadi PNS di kantor kecamatan atau kabupaten. Tapi sekarang orang tua di sana punya visi yang lebih baik untuk anak-anaknya. Banyak yang mengirim anak-anaknya sekolah ke Jawa, biasanya dicari kota yang ada familinya. Kalau sudah berhasil, kalau apes ngga dapat kerja di Jawa ya pulang ke Sulawesi, melamar jadi PNS di sana. Rata-rata kok suka ya jadi PNS. Keluarga besar saya saja hampir semuanya jadi PNS di Sulawesi. Cuma ortu saya yang merantau ke Jawa. (Papa sudah meninggal, mama wiraswasta buka warung makan).

Tapi tidak semuanya bisa menyekolahkan anaknya boro-boro sampai ke Jawa, lulus SMP saja sudah beruntung. Rata-rata putus sekolah sampai SMP. Entah karena tidak ada biaya, atau karena tidak ada sekolah yang memadai untuk mereka sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Kalau sudah begitu, remaja yang putus sekolah itu akan membantu ortunya bekerja, entah itu di ladang, mencari ikan, menjaga adik-adik mereka, atau ngojek.

Oya ojek di daerah ini laris manis, tapi ngojek di sini ngentos soalnya harus ngantar dari satu kampung ke kampung lain yang jaraknya yaaahhh lumayan jauh lah. Untuk kebutuhan sehari-hari, rata-rata penduduk kampung punya kebun atau halaman yang ditanami sayuran. Mereka juga punya hewan ternak seperti ayam, sapi, babi yang kalau lagi ada hajatan selalu jadi korban sembelihan. Orang Mori suka sekali makan sagu. Kalau di sana disebut papeda/ dui/ kapurung. Sagu disiram dengan air mendidih kemudian diaduk menggunakan sendok kayu. Sesudah itu dimakan dengan kuah ikan dan sayur rebus. Kuahnya dibumbui dengan lemon cui (khas sana) dan cabe rawit.

Makan duinya pakai sumpit, ambil dan slurppp sedot, telan, jangan dikunyah. Dijamin habis makan itu anda akan gembrobyos oleh keringat dan mulut berdesah kepedasan. Kalau di rumah makan dui itu, suami saya yang orang Jawa bilang, kayak makan lem. Hahaha... Sakjane sehat lho soalnya semuanya direbus dan langsung dipetik dari kebun. Selain itu ada makanan khas yaitu nasi jaha (nasi lemang) yaitu nasi (ketan kali ya) yang dimasak di bambu. Hmm... ini dimakan dengan sayur daun singkong (juga dimasak di bambu) dengan sambal dabu-dabu... mantap sekali... Batang pisang dan jantung pisang diiris tipis trus dimasak dengan ayam (lagi-lagi dimasak di bambu) juga enak.

Belum lagi daun-daunan yang entah lah namanya apa... ada lewe monto (rasanya asem), tandole, gedi... namanya aneh-aneh ya... Semua tanaman itu ada di halaman rumah saya di Jawa, langsung diimport dari Morowali. Kalau lagi ga belanja ke pasar, daun-daun tadi dipetik dan dimasak. Kaya serat bo...

Kebudayaan suku Mori? Hmm... susah juga nih. Yang saya tahu, kalau musim panen, penduduk kampung di Morowali akan melakukan pesta rakyat yang dinamakan Padungku.

Dalam pesta itu, penduduk kampung gotong royong mengumpulkan hasil panen di balai desa dan memasak makanan untuk dimakan bersama. Biasanya kepala desa setempat akan membunyikan gong untung memanggil penduduk kampung kumpul di balai desa untuk merayakan padungku. Di sana mereka menari dan bernyanyi (berpantun) yang disebut modero. Alat musiknya ya gong tadi. Sekarang sudah lebih canggih... pakai kaset lagu modero. Gong di kampung kakek saya dibawa dari Jawa. Beli di Yogya waktu kakek datang ke Jawa. Gerakannya membosankan sih, bagi saya, karena monoton itu itu saja. Tapi daya tarik dari modero itu di berbalas pantunnya. Anak-anak muda sekarang lebih kreatif dengan menambah variasi gerakan modero, eh malah hampir sama dengan poco-poco hehehe...

Tentang bahasa, Orang Mori punya bahasa daerah sendiri, tapi dialeknya beraneka ragam, tergantung daerahnya. Kalau di Mori sendiri dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Mori Atas dan Mori Bawah. Ini kayaknya pembagian berdasarkan kontour wilayah.
Yang di bukit disebut Mori atas, sedang yang di lembah disebut Mori Bawah. Kampung ortu sendiri ada di Mori Bawah.

Bahasa ortu saya Mori Molongkuni (mbuh bener ga nulisnya). Saya sendiri tidak bisa ngomong bahasa Mori Molongkuni, tapi bisa mendengar percakapan dalam bahasa itu. Bahasa ini hampir punah menurut orang tua-orang tua di sana. Kenapa? Karena anak-anak muda di sana sudah tidak suka menggunakan bahasa tersebut. Orang tua juga sudah malas mengajarkan dan membiasakan mereka berbahasa dalam bahasa Mori (wah kalah sama saya yang di Jawa, walaupun tidak bisa bicara tapi bisa mendengar bahasa Mori).

Anak-anak muda lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dengan logat yang balagu lagu (iyo mi... sana joo.... campuran logat Bugis dan Manado). Sayang ya... Sampai-sampai kakek saya berniat membuat buku dokumentasi bahasa Mori agar generasi muda suku Mori tidak lupa bahasa leluhurnya.

Tanah di sana masih relatif murah. Papa saya beli tanah 1 hektar di daerah antara kampung nya dan kampung mama hanya dengan uang 2 juta rupiah. Murah banget khan?! Tapi jangan tanya harga jualnya hehehe. Eh, tapi tidak juga... dulu pernah tanah itu ditawar oleh KORAMIL SULTENG. Sewaktu kerusuhan Poso, mereka berencana membangun asrama buat menampung TNI dan POLRI yang bertugas di sana.

Salah satu yang ditaksir tanah papa saya itu. Mau dibeli berapa ratus juta (below 200 juta pokoknya) tapi tidak jadi karena pejabat2 di sana sudah keburu gontok2an supaya tanahnya yang duluan dibeli. Terakhir ini kakek saya telpon tanah itu mau ditanami kelapa sawit, soalnya ada perusahaan yang mau membeli kelapa sawit dari penduduk. Yah siapa tahu beberapa tahun mendatang daerah Morowali berkembang.

Jadi untuk waktu dekat tanah itu tidak akan dijual. Walaupun kami sekeluarga tidak berniat kembali ke Morowali, setidaknya darah kami masih darah suku Mori asli. Dan sebisa mungkin kami memelihara bahasa dan adat istiadat suku Mori.

Terima kasih Zev... GBU

Koki - Sabtu 7 Juli 2007

Happy Fourth, Lampor & Mesin Tik (AS, Swiss, Filipina)

Mengenang Beliau (5 Juli `43 - 1 Agust `06)
Yani Maria - Salatiga

Dear Zev, kali ini saya ingin bercerita tentang perjalanan hidup papa saya. Jika beliau masih hidup, tanggal 5 Juli tahun ini adalah tahun ke 64 usianya. Semoga artikel ini dimuat Zeverina

Papa saya, lahir di Tingkeao, suatu desa di daerah Morowali, Sulawesi Tengah. Suatu daerah yang pasti tidak tertera di peta Indonesia. Adalah anak ke-3 yang lahir dari pasangan keluarga sederhana, ayah seorang petani, dan ibu seorang guru sekolah rakyat. Kedua kakak papa, laki-laki, namun di usia dini sudah dipanggil menghadap sang khalik karena penyakit disentri yang saat itu belum ada obatnya. Jadilah papa sebagai sulung dari keempat adik-adiknya yang masih kecil.

Terlahir dengan nama Natiu Onduko. Hanya saja saat merantau ke Jawa, papa merasa nama itu kurang keren  sehingga atas inisiatif sendiri mengganti namanya menjadi Ignatius Onduko. Sehingga sampai sekarang orang mengenalnya dengan nama barunya tersebut. Onduko adalah nama fam/marga. Orang Mori menganut sistem kekeluargaan patrilineal. Fam ini sangat langka. Kakek saya (ayah papa) adalah anak tunggal. Saudara laki-laki papa hanya 2, yang 1 tidak memiliki anak. Saudara saya beserta dengan sepupu hanya 2 orang yang laki-laki. Jadi praktis hanya 4 generasi Onduko yang masih tersisa di dunia ini. Saat mengetahui jenis kelamin anak saya adalah laki-laki, saya matur ke papa, akan memberi nama anak saya dengan nama Onduko, walaupun itu menyalahi aturan silsilah, tapi biar sajalah. Tentu saja papa saya sangat senang sekali dan itu adalah kado terakhir saya sebelum beliau menutup mata untuk selamanya.

Pendidikan terakhir beliau adalah sarjana muda di fakultas sastra UNDIP – Semarang. Mungkin karena tidak ada biaya atau kesibukan beliau berorganisasi, papa tidak melanjutkan kuliahnya untuk meraih gelar sarjana sastranya. Beribukan seorang guru, papa sangat peduli terhadap pendidikan. Walaupun berasal dari sebuah desa kecil di pedalaman Sulteng, papa berusaha untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Saat di sekolah rakyat, papa berhasil naik kelas beberapa tingkat lebih cepat dari murid lainnya. Sehingga saat menjadi guru SR, papa sempat mengajar teman seangkatannya. Bidang yang paling dikuasai adalah ilmu pasti dan ilmu hitung (tapi kok kuliahnya masuk sastra ya? Hehehe… ).

Saat kami berkumpul, papa sering bercerita tentang pengalamannya saat menjadi guru. Saat anak-anaknya merengek minta buku tulis baru, dengan merk mahal (waktu kecil dulu merk kiky yang paling trend di kalangan anak SD, cmiiw), papa berkata, dulu waktu sekolah papa menggunakan papan batu dan batu tulis untuk mencatat pelajaran. Asal tahu saja, tidak mungkin papan batu bisa menyimpan semua pelajaran untuk satu hari. Jadi sekali tulis, kemudian dihapus untuk menulis pelajaran selanjutnya. Dengan demikian, semua pelajaran harus dihapal di kepala. Memang benar, ingatan papa saya sangat tajam. Begitu pula untuk urusan angka, tambah kurang bagi kali, tidak perlu pakai oret-oretan, kalkulator atau sempoa, dalam hitungan singkat papa bisa berhitung dengan cermat dan tepat. Bahkan saat menderita stroke, ingatan dan kemampuan hitung papa masih bisa diacungi dua jempol, kalau perlu tambah 2 jempol kaki atau pinjam jempol tetangga  Mungkin sudah terasah sejak kecil.

Begitu pula saat anak-anaknya merengek minta upgrade kendaraan roda 4. Papa bercerita bahwa dulu untuk sekolah harus menempuh perjalanan sekitar 50 km dengan telanjang kaki, berjalan, menerobos hutan dan ladang. Berbekal singkong rebus untuk makan di jalan, minum dari embun yang menempel di daun, setiap hari dijalani tanpa keluh kesah.

Bagaimana papa bisa sampai di pulau Jawa? Sewaktu menjadi guru SR, ada kesempatan yang diberikan oleh pemerintah desa untuk seorang guru melanjutkan sekolah ke Jawa. Hanya saja bukan papa yang ditunjuk untuk berangkat, katanya karena kurang ngelobi, padahal dari segi kemampuan otak, beliau lebih dari temannya tersebut. Kecewa dengan penunjukan tersebut, papa bertekad untuk bisa melanjutkan pendidikan secara mandiri. Tujuannya adalah perguruan tinggi terkenal di pulau Jawa.

Singkat cerita, papa berangkat dari desa, menuju Poso. Tujuan beliau, mencari kerja di tempat pamannya yang saat itu mempunyai usaha kayu. Uang yang didapatkan dari kerja tersebut ditabung sebagai bekal ke Jawa. Dari Poso, papa ikut usaha pamannya di Manado. Usaha kayu semakin maju, sampai dikirim ke Jawa. Inilah saat yang ditunggu-tunggu papa.

Papa mendaftar di UNDIP, sebuah perguruan tinggi terkenal di Jawa, sesuai impiannya. Saat itu usia beliau sudah melebihi maksimum untuk masuk ke bangku kuliah. Entah bagaimana caranya, beliau menambahkan 3 tahun di tahun kelahirannya sehingga memenuhi syarat usia untuk masuk perguruan tinggi. Sampai sekarang, di KTP papa usianya lebih muda 3 tahun dari yang seharusnya. Sudah terlanjur basah. Jadilah papa seorang mahasiswa fakultas sastra di UNDIP.

Saat kuliah, beliau sangat aktif di kegiatan kemahasiswaan. Pernah menjadi sekretaris senat mahasiswa, aktif di paduan suara mahasiswa, baik sebagai anggota maupun sebagai pengurus, mengikuti organisasi kemahasiswaan, dan salah satu organisasi yang paling digelutinya adalah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Beliau adalah sesepuh di organisasi ini. Bahkan saking aktifnya di GMKI, membuat kuliahnya agak keteteran. Mungkin juga keteteran karena faktor biaya. Hingga seorang pendeta mahasiswa dari Belanda, Bapak Dethmers (alm) yang mengangkat papa menjadi anak asuh dan membantu biaya kuliah papa, walaupun hanya sampai sarjana muda. Papa jarang bercerita tentang hidupnya saat kuliah. Saya membacanya dari piagam-piagam beliau yang tersimpan rapi sampai sekarang juga dari sambutan yang diberikan oleh salah satu teman perjuangannya saat melepas kepergian beliau ke peristirahatan terakhirnya. Sungguh, dari penuturan temannya tersebut, baru saya sadar, papa saya seorang yang hebat di masa hidupnya, membuat saya sangat bangga menjadi salah satu anaknya.

(** eh Zev, kata papa saya, beliau kenal Pak Bondan Winarno. Entah benar itu temannya atau tidak, saat menonton wisata kuliner, beliau nyeletuk saya kenal dia (pak Bondan). Katanya dulu waktu mahasiswa (atau sudah lulus ya? Lupa…) beliau dan pak Bondan dapat panggilan kerja sebagai wartawan di harian Suara Pembaharuan (atau … duh lupa, pokoknya di Solo). Pak Bondan berangkat, papa saya tidak karena memilih pekerjaan di LSM).

Salah satu watak beliau adalah keras, berani berkata ya dan tidak secara tegas, bukan ya… tetapi atau tidak… namun. Beliau juga seorang yang sangat disiplin dalam segala hal. Saya ingat betul, ada jam malam yang harus dipatuhi anak-anaknya. Kapan boleh menonton TV, kapan saat belajar, kapan harus pulang ke rumah. Saya pernah sekali melanggar jam malam, padahal hanya lewat beberapa menit. Waktu itu saya keasyikan jalan-jalan dengan pacar (sekarang suami), sehingga harus memanjat pagar rumah karena sudah dikunci. Suami saya sampai sekarang masih ingat betul betapa keras mertuanya. Saat menderita sakit kanker, beliau juga harus menerapkan displin dalam makanan. Bagi kami, suatu siksaan menyantap masakan yang direbus/ dikukus setiap hari, dengan jenis makanan yang terbatas. Namun beliau melaluinya dengan penuh disiplin dan ketabahan, walaupun tidak berhasil terbebas dari penyakitnya tersebut.

Beliau juga mengajar anak-anaknya untuk hidup memiliki target misalnya kuliah harus 4 tahun, dengan IPK minimal 3. Cita-cita beliau adalah menyekolahkan semua anaknya sampai ke jenjang pendidikan setinggi-tingginya. Kata papa, pendidikan adalah investasi. Di tahun 2003, papa meraih gelar DR (HC) dari sebuah universitas di Amerika Serikat di bidang manajemen atas dedikasi dan ketekunannya dalam bidang manajemen sumber daya manusia di LSM tempat beliau mengabdi bertahun-tahun. Ketika menerima gelar tersebut, beliau berkata, ingin anak-anaknya bisa mencapai gelar Doktor beneran, tetapi papa tidak sanggup membiayai sampai S3. Kalau mau, anak-anaknya harus mencari beasiswa, karena beliau yakin kami mampu. Saat ini, saya belum berminat melanjutkan ke S2. Saya ingin konsentrasi ke pekerjaan sekarang dan keluarga. Mungkin suatu saat nanti saya akan mewujudkan cita-cita papa.

Cinta istri, anak, saudara, teman, tetangga. Itulah papa saya. Kepada istrinya, beliau tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Perselisihan tidak pernah terjadi dalam 25 tahun pernikahan mereka. Kepada anak-anaknya beliau sangat sayang dan selalu mendoakan kami agar kami menjadi anak-anak yang taat dan takut akan Tuhan. Setiap kali beliau berpergian, kami selalu mendapatkan oleh-oleh. Walaupun itu hanya berupa snack yang diberikan di pesawat, namun kami selalu senang menerima oleh-oleh beliau.

Saya ingat betul, saat mendapat kesempatan training di Hagai Institute, Hawaii selama 3 bulan, papa pulang membawa satu plastik buah-buahan. Ternyata selama beberapa hari sebelum kepulangan ke Indonesia, papa menyisihkan buah jatah makannya untuk dibawa. Katanya, ingat anak-anak, supaya bisa mencicipi buah dari Hawaii. Hahaha… Kami tertawa mendengarnya. Dalam kehidupan bermasyarakat, papa terkenal sebagai seorang yang selalu mendukung kegiatan RT. Walaupun sedang sakit, papa masih ikut siskamling. Kalau sakitnya parah, sampai tidak bisa datang, selalu menulis surat ijin untuk disampaikan ke rapat RT. Satu-satunya warga yang melakukan itu ya papa saya. Di antara saudara-saudaranya, mungkin papa saya termasuk salah satu yang paling berhasil. Namun demikian, beliau tidak menjadi sombong. Malahan selalu mendorong saudara-saudaranya untuk bisa maju. Entah sudah berapa orang keponakannya atau anak-anak di kampungnya yang ikut kami di Salatiga untuk sekolah. Papa membantu tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Sewaktu terjadi kerusuhan di Poso, rumah kami bak tempat pengungsian karena papa mau menampung korban yang menyelamatkan diri ke Jawa. Sampai seminggu lebih, rumah kami dihuni lebih dari 20 orang. Bayangkan saja.

Ah… masih banyak kebaikan-kebaikan hati beliau. Tidak cukup beribu-ribu kata yang dapat saya sampaikan untuk memaparkan hal-hal terindah dari hidup papa. Mengenang beliau semasa hidupnya adalah kesukaan saya. Kesukaan ini ingin saya bagikan kepada kokiers. Mungkin kokiers juga punya kenangan – kenangan baik itu haru, pilu, bahagia bersama dengan orang tua. Inilah kenangan saya tentang papa saya.

Selamat ulang tahun papa. Selamat merayakannya bersama dengan malaikat di surga. Seikat bunga mawar akan kami letakkan di nisanmu. Semoga papa bisa mencium wanginya.

Terima kasih Zev.



Mobil Dinas
Yani Maria-Salatiga

Zeverina yang baik hati, mau curhat nih…

Di tempat saya bekerja, ada fasilitas yang diberikan oleh perusahaan berupa kendaraan operasional (mobil dinas) untuk setiap bidang dan masing-masing manajer. Statusnya adalah sewa dan vendor yang men-supply menyediakan jasa servis tiap bulan dan asuransi jika terjadi apa-apa dengan mobil dinas tsb (tergores, penyot, hilang, dsb). Setiap tahun perusahaan bebas mengganti mobil dinas dengan keluaran terbaru. Saya tidak tahu berapa nominal yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membiayai mobil dinas ini.

Yang ingin saya share di sini adalah seringkali mobil dinas tidak dimanfaatkan dan dirawat sebagaimana mestinya. Beberapa di antaranya adalah, sikap karyawan yang masa bodoh dengan penggunaan mobil tersebut. Mobil dinas yang baru dipakai beberapa bulan, body-nya sudah keblaret-blaret (tergores) di sana sini. Bukannya karena yang menyopir baru belajar atau baru lulus dari sekolah mengemudi, namun lebih tepatnya karena “sense of belonging” yang kurang. Mungkin karena punya pikiran, “ah, kalau lecet khan bisa klaim ke asuransi”, sehingga menjadi alasan untuk menggunakan mobil dinas semena-mena. Aduh… ngenes melihatnya.

Mobil dinas bagian dan mobil dinas manajer seharusnya digunakan sebagai sarana transportasi bagi pegawai atau manajer yang hendak melakukan perjalanan dinas ke luar kota maupun untuk keperluan dinas di dalam kota, atau jika ada tamu, mobil dinas digunakan untuk keperluan antar jemput tamu kantor. Sayangnya saya tidak melihat fungsi tersebut berjalan dengan benar. Salah seorang manajer (jadi tidak semuanya) malah menggunakan mobil pribadinya ke kantor. Mobil dinasnya ternyata dipakai oleh istrinya. Tentu saja jika ada acara kedinasan, beliau tidak menggunakan mobil pribadinya tersebut, namun meminjam mobil dinas manajer lainnya atau malah yang lebih menyebalkan, memakai mobil dinas bagian. Hal ini tidak terjadi satu atau dua kali namun berkali-kali sehingga banyak staff-nya yang mengeluh, seolah-olah mobil dinas tersebut milik pribadinya. Mau protes percuma, karena si manajer ini sudah kebal pada teriakan-teriakan staff. Gila…

Tidak hanya itu saja. Monopoli mobil dinas bagian juga terjadi di kalangan staff (non manajer). Biasanya saat tidak digunakan, mobil dinas diparkir di pool kantor. Kunci disimpan di bagian logistik dan bisa digunakan sewaktu-waktu dengan mengisi log book. Hanya saja ada beberapa orang yang memanfaatkan kedekatan dengan pegawai logistik untuk meminjam mobil dinas untuk keperluan pribadi dan "lupa" mengembalikan. Sering pegawai yang benar-benar butuh mobil untuk perjalanan dinas kelimpungan mencari di tangan siapa mobil itu berada. Begitu ketemu orang yang memakai, eh dengan santainya dijawab “mobil tidak dibawa ke kantor, ada di rumah”. Sebal. Saya pernah menempuh perjalanan 1 jam untuk mengambil mobil dinas yang dibawa ke rumah saking butuhnya dengan mobil itu karena tidak punya mobil pribadi. Tambah kesal, begitu diperiksa, indikator bensin mendekati garis empty. Padahal ada peraturan tertulis, barang siapa yang terakhir kali memakai mobil harus mengisi bensin full tank!

Ada-ada saja masalah yang ditimbulkan oleh keberadaan mobil dinas di kantor saya. Ini akibat tidak diterapkannya secara tegas aturan main dalam pemakaian mobil dinas sesuai dengan fungsinya. Yang paling konyol, pernah terjadi gontok-gontokan antar pegawai gara-gara mobil dinas. Salah seorang pegawai protes di forum terbuka tentang penyalahgunaan mobil dinas untuk keperluan di luar kantor. Eh, ternyata banyak yang kebakaran jenggot, tersinggung, merasa dituding (padahal tidak disebutkan namanya secara spesifik). Sempat ramai tuh di milis kantor, ramai jadi obrolan di toilet, berminggu-minggu. Setelah itu penggunaan mobil dinas semakin diperketat. Namun tetap saja ada beberapa orang yang masih gatal memainkan fasilitas dinas tersebut untuk keperluan pribadi. Heran, tanya ken.. apa?


Koki - Kamis 5 Juli 2007

Cabin Crew, Arisan Nasional & Tea Ceremony (Belanda, AS, Jepang)

Susah BAB Dikasih Obat Insomia
Yani Maria-Salatiga

Dear Zev, bagi saya ini lucu. Entah buat Zev dan kokiers. Tapi cerita aja ah…

Kisah nyata. Masih gress pula. Soalnya belum ada 1x24 jam dari waktu kejadian hehehe.

Salah seorang staff helpdesk hari ini tidak kelihatan batang hidungnya. Selidik punya selidik dia sedang menuju UGD rumah sakit umum. Menurut info dari teman saya, dia terkena sakit perut yang cukup parah. Apalagi minggu lalu dia cuti sakit karena kena thypus.

Hampir tengah hari, dia kembali. Langsung deh diinterogasi. Soalnya kok lama betul, makan waktu lebih dari 5 jam. Ceritanya dia diping-pong di rumah sakit. Bermula dari keluhan sakit perut dan riwayat pasca sakit thypus, oleh petugas UGD dia dirujuk ke dokter ahli penyakit dalam (internist). Kepada internist, dia memaparkan keluhannya.

+ “Saya sakit perut, sudah satu minggu tidak buang air besar. Kemarin habis sakit thypus. Perut melilit tapi susah bab”.

- “Wah, kamu stress. Saya rujuk ke psikiater saja.”, sambil tangannya menulis resep.

Terpaksa staff helpdesk kami tersebut mengantri lagi di klinik psikiatri. Sewaktu bertatap muka dengan psikiaternya, dia kembali memaparkan keluhan penyakitnya. Psikiater melongo.

+ “Lho mbak, kok keluhannya seperti itu datangnya ke saya. Apa tidak salah tuh?”.

- “Lha saya disuruh sama dokter internist yang memeriksa saya barusan”

+ “ O… begitu. “

Kemudian teman saya diperiksa tekanan darahnya. Hasilnya 100/60, rendah.

+ “Mbak tekanan darahnya rendah. Memang suka begitu ya? “

- “Iya.”

+ “Mbak sering susah tidur”

- “Iya”

+ “Kalau begitu ini saya kasih obat buat insomia nya saja.”

- “Lha saya sudah dituliskan resep dari dokter internist, dok.”

+ “Tidak usah ditebus. Buang-buang uang saja”

- ???

Teman saya bingung. Dia sakit perut karena kesulitan buang air besar tapi malah diberi obat insomia. Lucu khan? Hahahahaha… (clingak clinguk… yang tertawa cuma saya seorang).

Ki Ageng, apakah dokter-dokternya lagi bad mood ya jadinya dagelan seperti itu. No comment deh…


Serba Serbi Nama
Yani Maria - Salatiga

Di salah satu scene film “Meet the Fockers”, Greg Focker (Ben Stiller) yang berprofesi sebagai perawat membantu persalinan seorang pasien di rumah sakit karena tidak ada dokter pada saat itu. Atas keberhasilannya, suami si pasien berkata kepada Greg “aku akan memberi nama anakku seperti namamu”. Begitu pria tersebut melihat nama asli Greg dia tersenyum kecut. Nama asli Greg adalah “Gaylord Focker”. Eng… ing… eng… Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia mungkin arti nama Greg adalah tuhan bercinta yang gay??? Hehehehe…

Apalah arti sebuah nama? Itu kata mas Shakespeare. Namun dari sepenggal kisah film di atas, nampak jelas bahwa arti sebuah nama adalah penting. Nama adalah sebutan atau label yang diberikan kepada benda, orang, tempat, produk, bahkan gagasan atau konsep yang biasanya digunakan untuk membedakan satu sama lain (Wikipedia). Nama adalah suatu atribut yang melekat di diri seseorang sejak lahir (name at birth), dimeteraikan pada sebuah akta kelahiran yang menandakan eksistensinya di dunia ini.

Bagi orang tua, saat-saat mempersiapkan nama bagi calon anak merupakan hal yang paling sulit. Nama merupakan ungkapan harapan dan doa dari orang tua kepada anak, sehingga harus dipikirkan dan dipersiapkan dengan baik. Tidak ada orang tua yang memberi nama anaknya secara asal-asalan. Semua orang tua pasti ingin memberi nama yang bermakna baik. Oleh karena itu, kadang-kadang menjadi kebingungan sendiri memikirkan nama anak. Ini yang saya alami sendiri saat mempersiapkan nama anak pertama. Sebenarnya lebih mudah mempersiapkannya karena sudah tahu jenis kelamin calon anak dari hasil USG. Namun tetap saja sampai hari-hari mendekati tanggal kelahiran masih belum menemukan nama yang sesuai. Bingung karena terlalu banyak pilihan, terlalu banyak titipan, terlalu banyak keinginan.

Dulu saya sering menertawakan teman-teman yang masih single, saat mereka berujar kalau punya anak laki-laki ingin diberi nama A, kalau punya anak perempuan ingin diberi nama B. Belum berkomitmen, belum menikah, belum mengandung, belum melahirkan, namun sudah punya database nama anak yang diidam-idamkan. Ternyata tidak salah mempersiapkan nama anak jauh-jauh hari sebelumnya. Berandai-andai itu tidak ada yang melarang.

Konvensi Penamaan

Pada umumnya, nama manusia terdiri dari nama depan (first name), nama tengah (middle name), dan nama belakang (last name). Nama belakang bisa berupa nama keluarga atau marga. Di beberapa negara, nama anak terutama anak laki-laki mengikuti nama ayahnya, misalnya William Jefferson Blythe III (nama asli Bill Clinton, former American president), Thomas Cruise Mapother IV (nama asli Tom Cruise, aktor Amerika), Cassius Marcellus Clay, Jr. (nama asli Muhammad Ali, petinju Amerika).

Di Indonesia, ada beberapa daerah yang pasti mencantumkan nama keluarga atau marga di namanya, tergantung garis penamaan mengikuti keluarga pihak laki-laki atau pihak perempuan. Dengan adanya nama keluarga atau marga tersebut, kita bisa mengenali kelompok dan asal daerah sesorang. Misalnya seseorang bernama Ruhut Sitompul. Ruhut adalah nama depan sedangkan Sitompul adalah nama keluarga atau marga. Dia pasti orang Batak karena marga Sitompul termasuk dalam nama keluarga dari Sumatera Utara tersebut. Rebecca Tumewu, pasti orang Manado karena Tumewu adalah salah satu nama keluarga atau marga dari Sulawesi Utara. Tanpa nama keluarga atau marga, kita juga bisa menebak asal daerah seseorang dari namanya, karena kebiasaan atau budaya penamaan yang sudah mendarah daging. Anda pasti langsung bisa menebak nama-nama seperti Ajat Sudrajat, Wawan Hartawan, Tono Hartono, berasal dari daerah mana?

Ada pula yang menambahkan gelar di namanya. Baik itu gelar untuk menunjukkan strata sosial maupun gelar yang diperoleh setelah berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi. RA. (Raden Ajeng) Kartini, pasti di dalam tubuhnya mengalir darah biru, golongan priyayi. Ida Bagus Maha Oke, pasti kasta brahmana. Ir. Soekarno, pasti seorang insinyur. Yani Maria, ST pasti sarjana teknik. Dr. Budiono Santoso, pasti seorang dokter, (pasti Ki Ageng Similikithi, hehehe…)

Ketika berubah status dari tidak kawin menjadi kawin (format status kartu identitas, kok tidak ada pilihan seperti di friendster : single, in relationship, domestic partner, married, it’s complicated), biasanya istri menambahkan nama suami di belakang namanya. Misalnya Hartini Winkelhake, mungkin Winkelhake adalah nama suaminya. Ria Wasseff, mungkin juga Wasseff adalah nama suaminya. (Maaf, tidak punya ide nama, jadi nyaplok nama-nama penulis koki, mohon maaf kalau salah, ampun… ampun…). Kalau saya sendiri, setelah menikah dengan mas Anggara tidak menjadi Yani Maria Anggara. Soalnya kok wagu ya, tidak keren, hehehe…

Arti Nama

Salah satu kriteria penamaan adalah memiliki makna yang baik. Namun ada yang berkata, tidak baik jika “kabotan jeneng” (keberatan nama) karena nama yang disandang memiliki arti yang terlalu “Wah”. Bisa jadi menimbulkan efek psikologis bagi yang menyandang nama tersebut. Entah benar atau tidak. Tetapi misalnya saja seseorang bernama Harum Wangi Melati, namun kenyataannya dia BB (bau badan), kontras dengan namanya yang berarti harum seperti wangi melati. Ini hanya sebuah contoh.

Ada juga yang berkata tidak perlu memiliki arti, yang penting enak dibaca dan enak didengar, tidak pasaran dan tidak ndeso. Misalnya si anak tampangnya bule, ganteng, mungkin orang tuanya pikir panjang untuk menamakan dia Sugiarto walaupun artinya bagus, banyak harta. Bener nggak sih?

Kebanyakan nama mengandung makna tempat lahir, tanggal lahir, perpaduan nama orang tua, jenis kelamin, sifat-sifat yang diharapkan dimiliki si anak kelak, urutan kelahiran (Nama-nama anak dari bahasa Sansekerta untuk urutan anak : Eka, Dwi, Tri, Panca, Sapta, dll. Di Bali: Putu, Wayan, Gede untuk anak pertama; Made, Nengah untuk anak kedua; Nyoman, Komang untuk anak ketiga; Ketut untuk anak keempat.)

Teman kantor saya bernama Dwi Agustina, dengan mudah kita menebak dia lahir pada tanggal 2 Agustus karena arti namanya menunjukkan tanggal kelahirannya.

Kenalan saya bernama Hardek Repin, singkatan dari hari kemerdekaan Republik Indonesia, diberi khusus oleh orang tuanya untuk mengingat hari kelahiran anaknya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.

Saudara saya bernama Padkarlon, merupakan singkatan dari paduan keluarga Larongge Onduko, berarti dia dilahirkan dari bapak bermarga Larongge dan ibu bermarga Onduko.

Adik saya bernama Matius merupakan singkatan dari Maryam dan Tius, nama mama dan papa.

Anakku Lelaki Hoed, anak pertama pasangan Melly Goeslaw dan Anto Hoed, menegaskan anak mereka laki-laki dari keluarga Hoed.

Geddi Jaddi Membummi, yang berarti jadi manusia yang membumi setelah dewasa, merupakan harapan dari Dik Doang kepada anak keduanya.

Dan masih banyak lagi… Apa arti nama anda?

Nama Julukan (Nickname)

Di komunitas dunia maya seperti koki dan koko banyak yang memilih menggunakan nama julukan daripada nama aslinya. Nama julukan digunakan untuk mengidentifikasikan sebuah alias atau nama samaran seseorang, sifatnya tidak resmi dan biasanya memiliki karakter yang khas sehingga mudah diingat. Bisa jadi nama julukan ini adalah singkatan atau inisial dari nama asli seperti SBY, presiden RI sekarang; JFK, former American president; KD, Krisdayanti; TT DJ, Titi Dwijayanti, dsb. Paling sering disebut di koki ini ya Zev, dari Zeverina. Bung JC, Josh Chen. Kalau Awwal, mungkin singkatan dari Awwaludin ya? Kaliiii….

Nama julukan juga bisa diambil dari sifat dan ciri fisik seseorang. Masih ingat julukan untuk pendekar “Si Buta dari Goa Hantu”. Dalam benak kita langsung terbayang, seorang pendekar buta yang sangar; teman saya yang diberi nama julukan “Jelly Juss” seperti merk snack, karena perutnya buncit tapi lembek; saya sendiri pernah dijuluki “pantat bebek” sewaktu SD karena kalau jalan megal megol seperti bebek. Kalau kokiers dan kokoers, arti nama julukannya apa saja ya?

Terakhir akan saya tutup tulisan ini dengan sebuah cerita. Alkisah kang Asep sedang menunggui Neng, istrinya yang sedang melahirkan. Anak pertama mereka lahir dengan selamat, berjenis kelamin perempuan. Saat ditanya, mau diberi nama siapa, kang Asep dan Neng bingung, karena belum menyiapkan nama. Pusing, kang Asep pergi ke kafetaria untuk mencari minum. Sesampainya di kafetaria, kang Asep disodori menu oleh pelayan kafe. Di salah satu menu tersebut tertera suatu tulisan yang membuat mata kang Asep berbinar-binar. Ahaaa!!! Kang Asep akhirnya menemukan nama untuk anak tercinta. Ice Juice….

Piss…. Matur nuwun Zev.

Koki - Senin 2 Juli 2007

Over Work, Burung Besi & Perampokan (Nigeria, AS, Belanda)

HAHAHIHI Ala KOKIERS:

( - )

Muslim
Yani Maria - Joglosemar

Dear Zev, mau bagi-bagi cerita waktu ospek masuk kuliah.

Ospek di kampus saya berlangsung selama 1 bulan. Fuiiih... selama itu, semua mahasiswa baru harus masuk asrama yang berada di lingkungan kampus. Kegiatan ospek berlangsung dari subuh sampai malam. Capeknya luar biasa. Tapi seru!

Setiap hari, kami wajib ikut kegiatan pembinaan rohani (binroh). Binroh dilaksanakan setiap subuh sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk yang beragama Islam, wajib ke masjid untuk sholat subuh berjamaah dan setelah itu dilanjutkan dengan ceramah. Sedangkan yang nasrani diadakan persekutuan doa pagi di balairung utama kampus.

Jika waktu binroh, semua mahasiswa baru keluar kamar dan berangkat ke acara binrohnya masing-masing. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh senior untuk inspeksi ke kamar-kamar. Biasanya untuk memeriksa kerapian kamar dan sekaligus menciduk mahasiswa yang absen dari binroh, kecuali sedang sakit atau berhalangan.

Nah, suatu hari, senior mendapati seorang teman saya masih tiduran di kamar dan tidak ikut binroh. Senior langsung memberi perintah teman saya untuk turun dari tempat tidur dan bertanya dengan nada galak. "Kamu sakit??? Kok tidak ikut binroh?". Jawab teman saya "Tidak kak". "Nama kamu siapa?". Teman saya menjawab "Muslim kak". Wah, senior saya tambah berang "Kamu itu, namanya Muslim tapi tidak pergi sholat, malah enak-enakan tidur. Push up!!!". Dengan lugu teman saya mengomentari perintah senior itu "Kak, nama saya Mus marga saya Lim. Agama saya Budha". Hehehe... si senior menelan ludahnya lagi, mukanya memerah menahan malu.

Salam buat Muslim, teman saya IF-17, di kampus tengah-tengah sawah.

Matur nuwun Zev dan kokiers.

Koki - Senin 30 April 2007

Cyberbully, Guru BP, Mengapa Merantau (AS, Jepang, Kanada)

Jaka Sembung Bawa Golok
Yani Maria - Joglosemar

Zev, barusan di milist internal kantor ada kehebohan gara-gara "Jaka Sembung Bawa Golok". Ceritanya nih kita lagi membahas kenapa koneksi ke internet lagi lambat? Terjadilah adu argumentasi sana sini baik dari segi aplikasi, network, dsb.

Nah, ada satu orang bapak yang menanggapi topik tersebut tapi bukan internet yang dia bahas tapi intranet. Oleh salah seorang rekanku, yang umurnya jauh lebih muda dari si bapak, dibalas...

"Pak, internet dan intranet beda konsepnya."

dan dibawah email tersebut diberi tulisan "Jaka Sembung Bawa Golok".

Mungkin sudah pada tahu, pantun "Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung ...."

Nah, yang titik-titik itu bisa diisi suka-suka, bisa "Jaka sembung bawa golok, ngga nyambung donk", "..., ngga nyambung jek",

Nah... si bapak itu tersinggung berat karena di benak dia, "Jaka sembung bawa golok, nggak nyambung guoooooblooookkk".

Dia marah besar, ada anak muda yang mengatakan dirinya Guoooblookk di depan umum. Akhirnya Zev, milist hari ini jadi perang Jaka Sembung.

Ke Simpang Lima beli Mac`D, Cape Deeee....h

Koki - Jumat 27 April 2007

Pengamen, Gelandangan & Pendidikan (Saigon, Moskow, Chicago)

HAHAHIHI Ala KOKIERS:
( - )

Passwordnya Suka-suka
Yani Maria-Joglosemar

Dear Zev, laptop atau pc mu dipassword ga? Untuk alasan security sebaiknya laptop atau pc dipassword (hehehe semua juga tahu kali yaaa...). Aku mau cerita soal password nih. Di kantorku, orang kalau mem-password PC nya, pakai password yang aneh2, suka-suka mereka. Hari pertama aku masuk kerja, duluuuu banget, masih luguuuu banget, aku terpaksa harus kerja di meja senior karena mejaku belum disiapkan. Kebetulan pula seniorku itu mau pergi dinas ke luar kota untuk beberapa hari. Sebelum pergi, beliau pesan "Ntar kalau mau pake PC saya, pakai saja ya. Passwordnya terserah. " Oke deh pak...Tau ga, waktu aku nyalain PC beliau dan harus memasukkan password, aku ingat-ingat pesan beliau. Hmm... kata si bapak, passwordnya terserah. Enaknya apa yaaa... jadi aku masukkin suka-suka aku. Mulai dari nomor induk karyawan, tanggal lahir, nama anjing kesayangan, nama pacar, nama ibu kandung, ... sampai nomor ktp, hasilnya semua password yang aku masukkan ditolak sistem. Waduh piye iki jal? Maklum masih anyaran tur lugu... mau tanya kiri-kanan isin. Alhasil selama si bapak pergi (kalau ga salah 1 minggu deh), aku cuma numpang duduk di mejanya tanpa ngapa-ngapain, bengong abisss. Waktu senior itu masuk kantor kembali, langsung aku protes ke beliau. "Bapak gimana sih, katanya passwordnya terserah, kok saya masukkin A, B, C, D kok nggak bisa. " Hehehe... si bapak tertawa, "Lha kowe ki yo lugu (kamu ini lugu), aku khan wis kanda (aku khan udah bilang) passworde ki terserah (passwordnya itu terserah) ya ketik wae T E R S E R A H (ya ketik aja T E R S E R A H). " Oalah... Jadi geli ingat pengalaman itu. Karena pekerjaanku yang harus melakukan akses remote ke komputer-komputer mereka, sekarang aku tidak terkecoh lagi kalau ada yang bilang passwordnya "SAMA SEPERTI DULU", "SEPERTI BIASA", "MAU TAU AJA", "TERSERAH", "PASSWORDNYA SAMA", "IDEM", "SUKA-SUKA KAMU" ...

Kompas.com

Berawal dari suatu hari yang sepi order, maklum barusan mutasi, baru adaptasi dengan lingkungan kerja yang baru. Seperti biasa, kewajiban bekerja dialihkan ke kewajiban browsing berita-berita hangat dari apa pun itu "sesuatu dot com" di internet. Kompas.com menjadi salah satu pilihannya. Pusing membaca berita yang itu itu saja seputar bencana, kasus2 korupsi, pilkada2 tak jelas dan berita-berita memusingkan lainnya, mata ini terantuk (eh klo kaki terantuk, kalau mata apa ya???) pada sebuah link di Kompas.com .... Community. Iseng2 klik klak klik...
Community ini terdiri dari beberapa kolom, love talk, kolom kita, potret, mak-ples, jalan sutra, dll. Sejak saat itu, salah satu yang wajib dibaca setiap harinya adalah kolom kita, disingkat Koki. Berisi artikel dari seluruh dunia, dengan slogan Citizen Journalism: Siapa saja, menulis apa saja! Kolom ini diasuh oleh moderator misterius, Zeverina, sering disapa Zevie, Zev, dan dikatakan misterius karena sampai sekarang baru separuh wajahnya saja yang dipublikasikan untuk menjawab rasa penasaran Koki mania.
Kokiers adalah sebutan bagi penulis di kolom kita ini. Kokoers adalah sebutan bagi penulis di kolom komentar, yang mengomentari artikel maupun sekedar menyapa moderator atau kokiers/kokoers lainnya.
Sejak saat itu, mulai dari iseng2 buka kolom ini, kemudian iseng iseng kirim komentar, selanjutnya iseng-iseng menulis artikel dan dimuat. Senangnya bukan kepalang. Sekarang sudah lebih dari 5 artikelku yang dimuat. Jarang yang bertema serius. Kebanyakan seputar pengalaman sehari-hari, cerita-cerita lucu. Baru2 ini saja dapat ilham menulis yang rada serius hehehe... Sekarang ini jadi kecanduan koki... bahkan pernah kopdar (kopi darat) dengan kokiers di Salatiga. Lumayan buat menambah pengalaman dan kenalan...