Cabin Crew, Arisan Nasional & Tea Ceremony (Belanda, AS, Jepang)
Susah BAB Dikasih Obat Insomia
Yani Maria-Salatiga
Dear Zev, bagi saya ini lucu. Entah buat Zev dan kokiers. Tapi cerita aja ah…Kisah nyata. Masih gress pula. Soalnya belum ada 1x24 jam dari waktu kejadian hehehe.
Salah seorang staff helpdesk hari ini tidak kelihatan batang hidungnya. Selidik punya selidik dia sedang menuju UGD rumah sakit umum. Menurut info dari teman saya, dia terkena sakit perut yang cukup parah. Apalagi minggu lalu dia cuti sakit karena kena thypus.
Hampir tengah hari, dia kembali. Langsung deh diinterogasi. Soalnya kok lama betul, makan waktu lebih dari 5 jam. Ceritanya dia diping-pong di rumah sakit. Bermula dari keluhan sakit perut dan riwayat pasca sakit thypus, oleh petugas UGD dia dirujuk ke dokter ahli penyakit dalam (internist). Kepada internist, dia memaparkan keluhannya.
+ “Saya sakit perut, sudah satu minggu tidak buang air besar. Kemarin habis sakit thypus. Perut melilit tapi susah bab”.
- “Wah, kamu stress. Saya rujuk ke psikiater saja.”, sambil tangannya menulis resep.
Terpaksa staff helpdesk kami tersebut mengantri lagi di klinik psikiatri. Sewaktu bertatap muka dengan psikiaternya, dia kembali memaparkan keluhan penyakitnya. Psikiater melongo.
+ “Lho mbak, kok keluhannya seperti itu datangnya ke saya. Apa tidak salah tuh?”.
- “Lha saya disuruh sama dokter internist yang memeriksa saya barusan”
+ “ O… begitu. “
Kemudian teman saya diperiksa tekanan darahnya. Hasilnya 100/60, rendah.
+ “Mbak tekanan darahnya rendah. Memang suka begitu ya? “
- “Iya.”
+ “Mbak sering susah tidur”
- “Iya”
+ “Kalau begitu ini saya kasih obat buat insomia nya saja.”
- “Lha saya sudah dituliskan resep dari dokter internist, dok.”
+ “Tidak usah ditebus. Buang-buang uang saja”
- ???
Teman saya bingung. Dia sakit perut karena kesulitan buang air besar tapi malah diberi obat insomia. Lucu khan? Hahahahaha… (clingak clinguk… yang tertawa cuma saya seorang).
Ki Ageng, apakah dokter-dokternya lagi bad mood ya jadinya dagelan seperti itu. No comment deh…
Serba Serbi Nama
Yani Maria - SalatigaDi salah satu scene film “Meet the Fockers”, Greg Focker (Ben Stiller) yang berprofesi sebagai perawat membantu persalinan seorang pasien di rumah sakit karena tidak ada dokter pada saat itu. Atas keberhasilannya, suami si pasien berkata kepada Greg “aku akan memberi nama anakku seperti namamu”. Begitu pria tersebut melihat nama asli Greg dia tersenyum kecut. Nama asli Greg adalah “Gaylord Focker”. Eng… ing… eng… Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia mungkin arti nama Greg adalah tuhan bercinta yang gay??? Hehehehe…
Apalah arti sebuah nama? Itu kata mas Shakespeare. Namun dari sepenggal kisah film di atas, nampak jelas bahwa arti sebuah nama adalah penting. Nama adalah sebutan atau label yang diberikan kepada benda, orang, tempat, produk, bahkan gagasan atau konsep yang biasanya digunakan untuk membedakan satu sama lain (Wikipedia). Nama adalah suatu atribut yang melekat di diri seseorang sejak lahir (name at birth), dimeteraikan pada sebuah akta kelahiran yang menandakan eksistensinya di dunia ini.
Bagi orang tua, saat-saat mempersiapkan nama bagi calon anak merupakan hal yang paling sulit. Nama merupakan ungkapan harapan dan doa dari orang tua kepada anak, sehingga harus dipikirkan dan dipersiapkan dengan baik. Tidak ada orang tua yang memberi nama anaknya secara asal-asalan. Semua orang tua pasti ingin memberi nama yang bermakna baik. Oleh karena itu, kadang-kadang menjadi kebingungan sendiri memikirkan nama anak. Ini yang saya alami sendiri saat mempersiapkan nama anak pertama. Sebenarnya lebih mudah mempersiapkannya karena sudah tahu jenis kelamin calon anak dari hasil USG. Namun tetap saja sampai hari-hari mendekati tanggal kelahiran masih belum menemukan nama yang sesuai. Bingung karena terlalu banyak pilihan, terlalu banyak titipan, terlalu banyak keinginan.
Dulu saya sering menertawakan teman-teman yang masih single, saat mereka berujar kalau punya anak laki-laki ingin diberi nama A, kalau punya anak perempuan ingin diberi nama B. Belum berkomitmen, belum menikah, belum mengandung, belum melahirkan, namun sudah punya database nama anak yang diidam-idamkan. Ternyata tidak salah mempersiapkan nama anak jauh-jauh hari sebelumnya. Berandai-andai itu tidak ada yang melarang.
Konvensi Penamaan
Pada umumnya, nama manusia terdiri dari nama depan (first name), nama tengah (middle name), dan nama belakang (last name). Nama belakang bisa berupa nama keluarga atau marga. Di beberapa negara, nama anak terutama anak laki-laki mengikuti nama ayahnya, misalnya William Jefferson Blythe III (nama asli Bill Clinton, former American president), Thomas Cruise Mapother IV (nama asli Tom Cruise, aktor Amerika), Cassius Marcellus Clay, Jr. (nama asli Muhammad Ali, petinju Amerika).
Di Indonesia, ada beberapa daerah yang pasti mencantumkan nama keluarga atau marga di namanya, tergantung garis penamaan mengikuti keluarga pihak laki-laki atau pihak perempuan. Dengan adanya nama keluarga atau marga tersebut, kita bisa mengenali kelompok dan asal daerah sesorang. Misalnya seseorang bernama Ruhut Sitompul. Ruhut adalah nama depan sedangkan Sitompul adalah nama keluarga atau marga. Dia pasti orang Batak karena marga Sitompul termasuk dalam nama keluarga dari Sumatera Utara tersebut. Rebecca Tumewu, pasti orang Manado karena Tumewu adalah salah satu nama keluarga atau marga dari Sulawesi Utara. Tanpa nama keluarga atau marga, kita juga bisa menebak asal daerah seseorang dari namanya, karena kebiasaan atau budaya penamaan yang sudah mendarah daging. Anda pasti langsung bisa menebak nama-nama seperti Ajat Sudrajat, Wawan Hartawan, Tono Hartono, berasal dari daerah mana?
Ada pula yang menambahkan gelar di namanya. Baik itu gelar untuk menunjukkan strata sosial maupun gelar yang diperoleh setelah berhasil menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi. RA. (Raden Ajeng) Kartini, pasti di dalam tubuhnya mengalir darah biru, golongan priyayi. Ida Bagus Maha Oke, pasti kasta brahmana. Ir. Soekarno, pasti seorang insinyur. Yani Maria, ST pasti sarjana teknik. Dr. Budiono Santoso, pasti seorang dokter, (pasti Ki Ageng Similikithi, hehehe…)
Ketika berubah status dari tidak kawin menjadi kawin (format status kartu identitas, kok tidak ada pilihan seperti di friendster : single, in relationship, domestic partner, married, it’s complicated), biasanya istri menambahkan nama suami di belakang namanya. Misalnya Hartini Winkelhake, mungkin Winkelhake adalah nama suaminya. Ria Wasseff, mungkin juga Wasseff adalah nama suaminya. (Maaf, tidak punya ide nama, jadi nyaplok nama-nama penulis koki, mohon maaf kalau salah, ampun… ampun…). Kalau saya sendiri, setelah menikah dengan mas Anggara tidak menjadi Yani Maria Anggara. Soalnya kok wagu ya, tidak keren, hehehe…
Arti NamaSalah satu kriteria penamaan adalah memiliki makna yang baik. Namun ada yang berkata, tidak baik jika “kabotan jeneng” (keberatan nama) karena nama yang disandang memiliki arti yang terlalu “Wah”. Bisa jadi menimbulkan efek psikologis bagi yang menyandang nama tersebut. Entah benar atau tidak. Tetapi misalnya saja seseorang bernama Harum Wangi Melati, namun kenyataannya dia BB (bau badan), kontras dengan namanya yang berarti harum seperti wangi melati. Ini hanya sebuah contoh.
Ada juga yang berkata tidak perlu memiliki arti, yang penting enak dibaca dan enak didengar, tidak pasaran dan tidak ndeso. Misalnya si anak tampangnya bule, ganteng, mungkin orang tuanya pikir panjang untuk menamakan dia Sugiarto walaupun artinya bagus, banyak harta. Bener nggak sih?
Kebanyakan nama mengandung makna tempat lahir, tanggal lahir, perpaduan nama orang tua, jenis kelamin, sifat-sifat yang diharapkan dimiliki si anak kelak, urutan kelahiran (Nama-nama anak dari bahasa Sansekerta untuk urutan anak : Eka, Dwi, Tri, Panca, Sapta, dll. Di Bali: Putu, Wayan, Gede untuk anak pertama; Made, Nengah untuk anak kedua; Nyoman, Komang untuk anak ketiga; Ketut untuk anak keempat.)
Teman kantor saya bernama Dwi Agustina, dengan mudah kita menebak dia lahir pada tanggal 2 Agustus karena arti namanya menunjukkan tanggal kelahirannya.
Kenalan saya bernama Hardek Repin, singkatan dari hari kemerdekaan Republik Indonesia, diberi khusus oleh orang tuanya untuk mengingat hari kelahiran anaknya yang bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus.
Saudara saya bernama Padkarlon, merupakan singkatan dari paduan keluarga Larongge Onduko, berarti dia dilahirkan dari bapak bermarga Larongge dan ibu bermarga Onduko.
Adik saya bernama Matius merupakan singkatan dari Maryam dan Tius, nama mama dan papa.
Anakku Lelaki Hoed, anak pertama pasangan Melly Goeslaw dan Anto Hoed, menegaskan anak mereka laki-laki dari keluarga Hoed.
Geddi Jaddi Membummi, yang berarti jadi manusia yang membumi setelah dewasa, merupakan harapan dari Dik Doang kepada anak keduanya.
Dan masih banyak lagi… Apa arti nama anda?
Nama Julukan (Nickname)Di komunitas dunia maya seperti koki dan koko banyak yang memilih menggunakan nama julukan daripada nama aslinya. Nama julukan digunakan untuk mengidentifikasikan sebuah alias atau nama samaran seseorang, sifatnya tidak resmi dan biasanya memiliki karakter yang khas sehingga mudah diingat. Bisa jadi nama julukan ini adalah singkatan atau inisial dari nama asli seperti SBY, presiden RI sekarang; JFK, former American president; KD, Krisdayanti; TT DJ, Titi Dwijayanti, dsb. Paling sering disebut di koki ini ya Zev, dari Zeverina. Bung JC, Josh Chen. Kalau Awwal, mungkin singkatan dari Awwaludin ya? Kaliiii….
Nama julukan juga bisa diambil dari sifat dan ciri fisik seseorang. Masih ingat julukan untuk pendekar “Si Buta dari Goa Hantu”. Dalam benak kita langsung terbayang, seorang pendekar buta yang sangar; teman saya yang diberi nama julukan “Jelly Juss” seperti merk snack, karena perutnya buncit tapi lembek; saya sendiri pernah dijuluki “pantat bebek” sewaktu SD karena kalau jalan megal megol seperti bebek. Kalau kokiers dan kokoers, arti nama julukannya apa saja ya?
Terakhir akan saya tutup tulisan ini dengan sebuah cerita. Alkisah kang Asep sedang menunggui Neng, istrinya yang sedang melahirkan. Anak pertama mereka lahir dengan selamat, berjenis kelamin perempuan. Saat ditanya, mau diberi nama siapa, kang Asep dan Neng bingung, karena belum menyiapkan nama. Pusing, kang Asep pergi ke kafetaria untuk mencari minum. Sesampainya di kafetaria, kang Asep disodori menu oleh pelayan kafe. Di salah satu menu tersebut tertera suatu tulisan yang membuat mata kang Asep berbinar-binar. Ahaaa!!! Kang Asep akhirnya menemukan nama untuk anak tercinta. Ice Juice….
Piss…. Matur nuwun Zev.